image_82_doa-saat-musibah

Hikmah: Menangis dan Merintih Ketika Sholat

Menangis di dalam shalat itu diperbolehkan, baik karena seseorang itu takut kepada Allah SWT, atau karena sebab lain, seperti keika ia ada bencana atau sakit yang menimpanya. Selama hal itu tidak dibuat-buat dan tidak bisa ditahan, Hal ini berdasarkan firman Allah SWT.:

“Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pengasih kepada mereka, maka mereka tunduk sjud dan menangis,” (Maryam:58)

Ayat ini berlaku bagi seseorang yang melakukan shalat atau yang lainnya. Ada banyka hadits yang menjelaskan tentang hal ini. Diantaranya sebagai berikut:

Abdullah bin Asy-Syikhr meriwayatkan, “Saya melihat Rasulullah SAW shalat. Sedangkan didalam dada beliau terdengar suara gemuruh tangisan seperti bunyi air mendidih di dalam ketel.”

Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, Abu Bakar adalah seorang yang lemah hati. Ia tidak bisa menahan air matanya jika ia membaca Al-Qur’an, ia (sering) menangis. (Meskipun demikian) beliau tetap memerintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam.

Sikap Rasulullah yang tetap memerintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam bagi orang-orang, padahal diberitahukan kepada beliau bahwa Abu Bakar selalu menangis di dalam sholatnya, hal ini menunjukkan bahwa menangis di dalam sholat itu boleh.

Umar bin Khattab juga pernah menangis ketika shalat subuh. (Pada sholat itu), Umar membaca surat Yusuf. Ketika sampai pada bacaan, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku,..” (Yusuf: 86) terdengarlah suara tangisannya yang keras.

Perbuatan Umar ini, cukup sebagai bantahan terhadap orang yang mengatakan bahwa menangis dalam sholat itu dapat membatalkan sholat jika suara tangisannya sampai terdengar walaupun hanya dua huruf. Alasan mereka, bahwa jika tangisan itu terdengar sampai dua huruf, batallah sholatnya karena dianggap sebagai sebuah pembicaraan, alasan ini sama sekali tidak bisa diterima sebab menangis dan berbicara adalah dua hal yang berbeda.

Wallahu a’lam bisshowab..

Geo.

hadits

Hadits Arba’in Nawawiyah : Tentang Pengampunan Dosa

عنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَاكَانَ مِنْكَ وَلاَ أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوْبُكَ عَنَانَ السَّماَءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ، يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطاَياَ ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكْ بِي شَيْئاً لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

[رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح ]

Terjemah Hadits / ترجمة الحديث :

Dari Anas Radhiallahuanhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Allah Ta’ala berfirman: “Wahai anak Adam, sesungguhnya Engkau berdoa kepada-Ku dan memohon kepada-Ku, maka akan aku ampuni engkau, Aku tidak peduli (berapapun banyaknya dan besarnya dosamu). Wahai anak Adam seandainya dosa-dosamu (sebanyak) awan di langit kemudian engkau minta ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni engkau. Wahai anak Adam sesungguhnya jika engkau datang kepadaku dengan kesalahan sepenuh bumi kemudian engkau menemuiku dengan tidak menyekutukan Aku sedikitpun maka akan Aku temui engkau dengan sepenuh itu pula ampunan “

(Riwayat Tirmidzi dan dia berkata : haditsnya hasan shahih).

Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث:

1.     Berdoa diperintahkan dan dijanjikan  untuk dikabulkan.

2.     Pemberian maaf Allah dan ampunan-Nya lebih luas dan lebih besar dari dosa seorang hamba jika dia minta ampun dan bertaubat.

3.     Berbaik sangka kepada Allah Ta’ala, Dialah semata Yang Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat dan istighfar.

4.     Tauhid adalah pokok ampunan dan sebab satu-satunya untuk meraihnya.

5.     Membuka pintu harapan bagi ahli maksiat untuk segera bertaubat dan menyesal betapapun banyak dosanya.

kasih-sayang-2

Keutamaan Ibu Dalam Hidup Kita

Dikutip dari muslimah.co.id.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Al-Ahqaaf : 15)

Ayat diatas menjelaskan akan hak ibu terhadap anaknya. Ketahuilah, bahwasanya ukuran terendah mengandung sampai melahirkan adalah 6 bulan (pada umumnya adalah 9 bulan 10 hari), ditambah 2 tahun menyusui anak, jadi 30 bulan. Sehingga tidak bertentangan dengan surat Luqman ayat 14 (Lihat Tafsiir ibni Katsir VII/280)

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14)

Dalam ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil, kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar daripada kepada ayah. Sebagaimana dikemukakan dalam sebuah hadits,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Imam Al-Qurthubi menjelaskan, “Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalammenghadapi masa hamil, kesulitan ketikamelahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya.

al-Qadhi Iyadh menyatakan bahwa ibu memiliki keutamaan yang lebih besar dibandingkan ayah) Begitu pula dengan Imam Adz-Dzahabi rahimahullaah, beliauberkata dalam kitabnya Al-Kabaair,

Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan, seolah-olah sembilan tahun.

Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya.

Dia telah menyusuimu dari putingnya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu.

Dia cuci kotoranmu dengan tangan kirinya, dia lebih utamakan dirimu dari padadirinya serta makanannya.

Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu.

Dia telah memberikanmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu.

Seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suaranya yang paling keras.

Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik.

Dia selalu mendo’akanmu dengan taufik, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.

Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu.

Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar.

Engkau puas minum dalam keadaan dia kehausan.

Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu.

Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat.

Berat rasanya atasmu memeliharanya padahal itu adalah urusan yang mudah.

Engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek.

Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.

Padahal Allah telah melarangmu berkata ‘ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut.

Engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu.

Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul ‘aalamin. (Akan dikatakan kepadanya),

ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ

“Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya”. (QS. Al-Hajj : 10) (Al-Kabaair hal. 53-54, Maktabatush Shoffa, Dar Albaian)

Demikianlah dijelaskan oleh Imam Adz-Dzahabi tentang besarnya jasa seorang ibu terhadap anak dan menjelaskan bahwa jasa orang tua kepada anak tidak bisa dihitung. Yah, kita mungkin tidak punya kapasitas untuk menghitung satu demi satu hak-hak yang dimiliki seorang ibu. Islam hanya menekankan kepada kita untuk sedapat mungkin menghormati, memuliakan dan menyucikan kedudukan sang ibu dengan melakukan hal-hal terbaik yang dapat kita lakukan, demi kebahagiannya.

Contoh manusia terbaik yang berbakti kepada Ibunya

Dari Abi Burdah, ia melihat Ibnu ‘Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang yaman itu bersenandung,

إِنِّي لَهَا بَعِيْرُهَا الْمُـذِلَّلُ – إِنْ أُذْعِرْتُ رِكَابُهَا لَمْ أُذْعَرُ

Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh. Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.

Orang itu lalu bertanya kepada Ibn Umar, “Wahai Ibnu Umar, apakah aku telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar menjawab, “Engkau belum membalas budinya, walaupun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan.” (Adabul Mufrad no. 11; Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dalam sebuah riwayat diterangkan: Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya seseorang mendatanginya lalu berkata: bahwasanya aku meminang wanita, tapi ia enggan menikah denganku. Dan ia dipinang orang lain lalu ia menerimanya. Maka aku cemburu kepadanya lantas aku membunuhnya. Apakah aku masih bisa bertaubat? Ibnu Abbas berkata: apakah ibumu masih hidup? Ia menjawab: tidak. Ibnu Abbas berkata: bertaubatlah kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan dekatkanlah dirimu kepadaNya sebisamu. Atho’ bin Yasar berkata: maka aku pergi menanyakan kepada Ibnu Abbas kenapa engkau tanyakan tentang kehidupan ibunya? Maka beliau berkata: ‘Aku tidak mengetahui amalan yang paling mendekatkan diri kepada Allah ta’ala selain berbakti kepada ibu’. (Hadits ini dikeluarkan juga oleh Al Baihaqy di Syu’abul Iman (7313), dan Syaikh Al Albany menshahihkannya, lihat As Shohihah (2799)) Pada hadits di atas dijelaskan bahwasanya berbuat baik kepada ibu adalah ibadah yang sangat agung, bahkan dengan berbakti kepada ibu diharapkan bisa membantu taubat seseorang diterima Allah ta’ala. Seperti dalam riwayat di atas, seseorang yang melakukan dosa sangat besar yaitu membunuh, ketika ia bertanya kepada Ibnu Abbas, apakah ia masih bisa bertaubat, Ibnu Abbas malah balik bertanya apakah ia mempunyai seorang ibu, karena menurut beliau berbakti atau berbuat baik kepada ibu adalah amalan paling dicintai Allah sebagaimana sebagaimana membunuh adalah termasuk dosa yang dibenci Allah. Berbuat baik kepada ibu adalah amal sholeh yang sangat bermanfa’at untuk menghapuskan dosa-dosa.

Ini artinya, berbakti kepada ibu merupakan jalan untuk masuk surga.

Jangan Mendurhakai Ibu

Dalam sebuah hadits Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عن المغيرة بن شعبة قال : قال النبي صلى الله عليه و سلم : إن الله حرم عليكم عقوق الأمهات ووأد البنات ومنع وهات . وكره لكم قيل وقال وكثرة السؤال وإضاعة المال

“Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan kalian berbuat durhaka kepada ibu-ibu kalian, mengubur anak perempuan hidup-hidup, menolak kewajiban dan menuntut sesuatu yang bukan menjadi haknya. Allah juga membenci jika kalian menyerbarkan kabar burung (desas-desus), banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta.” (Hadits shahih, riwayat Bukhari, no. 1407; Muslim, no. 593, Al-Maktabah Asy-Syamilah)

Ibnu Hajar memberi penjelasan sebagai berikut, “Dalam hadits ini disebutkan ‘sikap durhaka’ terhadap ibu, karena perbuatan itu lebih mudah dilakukan terhadap seorang ibu. Sebab,ibu adalah wanita yang lemah. Selain itu, hadits ini juga memberi penekanan, bahwa berbuat baik kepada itu harus lebih didahulukan daripada berbuat baik kepada seorang ayah, baik itu melalui tutur kata yang lembut, atau limpahan cinta kasih yang mendalam.” (Lihat Fathul Baari V : 68)

Sementara, Imam Nawawi menjelaskan, “Di sini, disebutkan kata ‘durhaka’ terhadap ibu, karena kemuliaan ibu yang melebihi kemuliaan seorang ayah.” (Lihat Syarah Muslim XII : 11)

Buatlah Ibu Tertawa

((جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : جئْتُ أبَايِعُكَ عَلَى الْهِجْرَةِ، وَتَرَكْتُ أَبَوَيَّ يَبْكِيَانِ، فَقَالَ : ((اِرْخِعْ عَلَيْهِمَا؛ فَأَضْحِكْهُمَا كَمَا أَبْكَيْتَهُمَا

“Seseorang datang kepada Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Aku akan berbai’at kepadamu untuk berhijrah, dan aku tinggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis.”

Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis.” (Shahih : HR. Abu Dawud (no. 2528), An-Nasa-i (VII/143), Al-Baihaqi (IX/26), dan Al-Hakim (IV/152))

Jangan Membuat Ibu Marah

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ : رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَاالْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَلَدِ

“Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata, “Ridha Allah tergantung ridha orang tua dan murka Allah tergantung murka orang tua.“ (Adabul Mufrod no. 2. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan jika sampai pada sahabat, namun shahih jika sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) Kandungan hadits diatas ialah kewajiban mencari keridhaan kedua orang tua sekaligus terkandung larangan melakukan segala sesuatu yang dapat memancing kemurkaan mereka. Seandainya ada seorang anak yang durhaka kepada ibunya, kemudian ibunya tersebut mendo’akan kejelekan, maka do’a ibu tersebut akan dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana dalam hadits yang shahih Nabi Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ، لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ

“Ada tiga do’a yang dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak diragukan tentang do’a ini: (1) do’a kedua orang tua terhadap anaknya, (2) do’a musafir-orang yang sedang dalam perjalanan-, (3) do’a orang yang dizhalimin.” (Hasan : HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad (no. 32, 481/Shahiih Al-Adabil Mufrad (no. 24, 372))

Jika seorang ibu meridhai anaknya, dan do’anya mengiringi setiap langkah anaknya, niscaya rahmat, taufik dan pertolongan Allah akan senantiasa menyertainya. Sebaliknya, jika hati seorang ibu terluka, lalu ia mengadu kepada Allah, mengutuk anaknya. Cepat atau lambat, si anak pasti akan terkena do’a ibunya.

Wal iyyadzubillaah.. tidak terucap dari lisan ibu melainkan do’a kebaikan dan keridhaan untukmu. Karena Allah mendengarkan do’a seorang ibu dan mengabulkannya. Dan dekatkanlah diri kita pada sang ibu, berbaktilah, selagi masih ada waktu…

والله الموفّق إلى أقوم الطريق وصلى الله وسلم على نبينا وعلى آله وأصحابه ومن اتّبعهم بإحسان الى يوم الدين

istri-shalihah

Sifat-Sifat Istri Shalihah

Dari Abu Said Al Khudri dia berkata: Pernah suatu kali para wanita berkata kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Kaum laki-laki telah mengalahkan kami, maka jadikanlah satu hari untuk kami, Nabi pun menjanjikan satu hari dapat bertemu dengan mereka, kemudian Nabi memberi nasehat dan perintah kepada mereka. Salah satu ucapan beliau kepada mereka adalah: “Tidaklah seorang wanita di antara kalian yang ditinggal mati tiga anaknya, kecuali mereka sebagai penghalang baginya dari api nereka. Seorang wanita bertanya: “Bagaimana kalau hanya dua?” Beliau menjawab: “Juga dua.” (HR. Al-Bukhari No 1010)

Seorang isteri yang aqidahnya benar akan tercermin dalam tingkah lakunya misalnya:

  • Dia hanya bersahabat dengan wanita yang baik.
  • Selalu bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Rabbnya.
  • Bisa menjadi contoh bagi wanita lainnya.

Akhlak Isteri Idaman.

  • Berusaha berpegang teguh kepada akhlak-akhlak Islami yaitu: Ceria, pemalu, sabar, lembut tutur katanya dan selalu jujur.
  •  Tidak banyak bicara, tidak suka merusak wanita lain, tidak suka ghibah (menggunjing) dan namimah (adu domba).
  •  Selalu berusaha untuk menjaga hubungan baik dengan isteri suaminya yang lain (madunya) jika suaminya mempunyai isteri lebih dari satu.
  •  Tidak menceritakan rahasia rumah tangga, diantaranya adalah hubungan suami isteri ataupun percekcokan dalam rumah tangga. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya di antara orang yang terburuk kedudukan-nya disisi Allah pada hari kiamat yaitu laki-laki yang mencumbui isterinya dan isteri mencumbui suaminya kemudian ia sebar luaskan rahasianya.” (HR. Muslim 4/157)

Isteri idaman di rumah suaminya

  •  Membantu suaminya dalam kebaikan. Merupakan kebaikan bagi seorang isteri bila mampu mendorong suaminya untuk berbuat baik, misalnya mendo-rong suaminya agar selalu ihsan dan berbakti kepada kedua orang tuanya, sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang artinya: “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah.” (Al Ahqaf 15)
  • Membantunya dalam menjalin hubungan baik dengan saudara-saudaranya.
  • Membantunya dalam ketaatan.
  • Berdedikasi (semangat hidup) yang tinggi.
  •  Ekonomis dan pandai mengatur rumah tangga.
  • Bagus didalam mendidik anak.

Penampilan:

  • Di dalam rumah, seorang istri yang shalehah harus selalu memperhatikan penampilannya di rumah suaminya lebih-lebih jika suaminya berada di sisinya maka Islam sangat menganjurkan untuk berhias dengan hal-hal yang mubah sehingga menyenangkan hati suaminya.
  • Jika keluar rumah, seorang istri yang sholehah harus memperhati-kan hal-hal berikut: Harus minta izin suami, Harus menutup aurat dan tidak menampakkan perhiasannya, Tidak memakai wangi-wangian, Tidak banyak keluar kecuali untuk tujuan syar’i atau keperluan yang sangat mendesak. Abrowi
rahsia-sedekah

Bersedekah dan Hikmahnya

Niat sedekah yang tetap diterima

Abu Hurairah r.a menerangkan bahawasanya Rasulullah SAW bersabda maksudnya: “ Seorang lelaki berkata : “Demi Allah saya akan memberi sedekah. Maka dia keluar membawa sedekahnya lalu diletakkannya di dalam tangan pencuri. Maka pada paginya, orang ramai pun memperkatakan hal tersebut. Mereka berkata : “ Telah diberi sedekah kepada pencuri. Si pemberi itu berkata : “Wahai Tuhan ku, hanya untuk Engkaulah segala puji-pujian. Demi Allah, saya akan sedekahkan satu sedekah lagi. Maka dia keluar membawa sedekahnya lalu diletakkan di tangan wanita penzina. Pada pagi hari itu orang ramai pun memperkatakan hal tersebut. Mereka berkata : “Telah diberikan sedekah kepada wanita penzina. Orang tersebut berkata : “Wahai Tuhan ku, hanya untuk Engkaulah segala puji-pujian. Demi Allah saya akan memberikan satu sedekah lagi. Maka dia keluar membawa sedekahnya lalu diletakkan di tangan orang kaya. Pada pagi hari itu orang ramai memperkatakan hal tersebut. Mereka berkata : “Telah diberikan sedekah kepada orang kaya. Orang itu berkata : “Wahai Tuhan ku, hanya untuk Engkaulah segala puji-pujian terhadap si pencuri, si penzina dan terhadap si kaya. Kemudian datanglah seseorang kepadanya dalam tidurnya lalu berkata kepadanya : “Sedekah mu kepada si pencuri, mudah-mudahan ia akan memelihara dirinya daripada mencuri, manakala kepada wanita penzina mudah-mudahan ia akan memelihara dirinya daripada berzina dan orang kaya mudah-mudahan ia akan mengambil ibarat lalu menafkahkan sebahagian harta yang telah Allah berikan kepadanya.” (al-Bukhari dan Muslim)

Sedekah mesti halal sumbernya

Dari Ibnu ‘Umar r.a katanya:”Aku mendengar Rasulullah s.a.w bersabda:”Tidak diterima solat seseorang tanpa suci dan tidak diterima sedekah yang berasal daripada kejahatan (seperti mencuri, menipu, menggelapkan wang, merompak, judi dan sebagainya)” (Muslim)

Jangan suka perhitungan dalam sedekah

Dari ‘Asma binti Abu Bakar as-Siddiq r.a katanya, dia datang kepada Rasulullah s.a.w, lalu dia bertanya:”Ya nabi Allah! Aku tidak mempunyai apa-apa untuk disedekahkan selain yang diberikan Zuber (suamiku) kepaku (untuk belanja rumahtangga). Berdosakah aku apabila wang belanja itu kusedekahkan ala kadarnya ?”Jawab nabi s.a.w :”Sedekahkanlah ala kadarnya sesuai dengan kemampuanmu dan jangan menghitung-hitung kerana Allah akan menghitung-hitung pula pemberian-Nya kepadamu dan akan kedekut kepadamu.” (Muslim)

Kejar akhirat bukan dunia

Rasulullah SAW ini: “Sesiapa yang menjadikan akhirat sebagai cita-citanya, maka Allah akan mencukupkan semua urusan dunianya; dan sesiapa yang keinginannya hanyalah kepada dunia (sebagai cita-citanya), maka Allah akan tidak akan memperdulikannya di lembah mana dia akan binasa (menjadikannya miskin dan dunia datang kepadanya; hanya sebatas yang telah ditakdirkan ke atas dirinya).” (Mafhum hadis riwayat Ibn Majah). Arif

keistimewaan-hari-jumat

Anjuran Mandi Sebelum Sholat Jum’at

Dalam tulisan ini kita akan membahas hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu yang berisi anjuran untuk mandi pada hari Jum’at.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جُمُعَةٍ مِنَ الْجُمُعَةِ: يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ، إِنَّ هَذَا يَوْمٌ جَعَلَهُ اللَّهُ تَعَالَى لَكُمْ عِيدًا، فَاغْتَسِلُوا، وَعَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada hari Jum’at : “Wahai sekalian kaum muslimin, sesungguhnya hari ini telah Allah jadikan bagi kalian hari ‘Ied, maka mandilah kalian dan hendaklah kalian bersiwak”.
Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy 1/299 (1/477) no. 1427 & 3/243 (3/345) no. 5960, Ath-Thabaraaniy dalam Ash-Shaghiir (Ar-Raudlud-Daaniy) no. 358 & Al-Ausath no. 3433, Ibnul-Muqri’ dalam Mu’jam-nya no. 411, Ibnul-Mudhaffar Al-Bazzaaz dalam Gharaaibu Maalik no. 88, Abu Ahmad Al-Haakim dalam ‘Awaaliy Maalik bin Anas no. 55, dan Ibnu ‘Abdil-Barr dalam At-Tamhiid 11/211-212; semuanya dari jalan Yaziid bin Sa’iid Al-Iskandaraaniy, dari Maalik bin Anas, dari Sa’iid bin Abi Sa’iid Al-Maqburiy, dari ayahnya, dari Abu Hurairah secara marfuu’.
Riwayat di atas ma’lul. Ad-Daaraquthniy dan Abu Haatim rahimahumallah sepakat akan ke-ma’lul-annya, hanya saja mereka berbeda pendapat dalam bahasan pen-ta’lil-annya.
a.     Ta’liil Ad-Daaraquthniy rahimahullah.
Setelah menyebutkan perselisihan riwayat, Ad-Daaraquthniy rahimahullah menyimpulkan :
وَالصَّحِيحُ قَوْلُ أَصْحَابِ الْمُوَطَّأِ الْقَعْنَبِيُّ وَمَنْ تَابَعَهُ: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ مَوْقُوفًا
“Dan yang benar adalah perkataan ashhaabu Al-Muwaththa’ yaitu Al-Qa’nabiy dan yang mengikutinya : Dari Abu Hurairah secara mauquuf” [Al-‘Ilal, 10/384-385 no. 2070].
Yaziid telah diselisihi ashhaab Maalik yang kedudukannya lebih tingginya darinya seperti Al-Qa’nabiy, ‘Abdurrazzaaq, ‘Abdurrahmaan bin Al-Qaasim, Abu Mush’ab Az-Zuhriy dan Suwaid bin Sa’iid yang meriwayatkan dari Maalik secara mauquuf.
Yaziid bin Sa’iid selain disifati oleh Abu Haatim Ar-Raaziy sebagai tempatnya kejujuran, ia juga disifati oleh Ibnu Hibbaan sebagai orang yang sering meriwayatkan hadits-hadits ghariib (yughrib) [Ats-Tsiqaat, 9/277].
Riwayat mauquuf tersebut adalah :
عَنْ سَعِيْدِ بنِ أَبِي سَعِيد الْمَقْبُرِي، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ : ” غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ كَغُسْلِ الْجَنَابَةِ “
Dari Sa’iid bin Abi Sa’iid Al-Maqburiy, dari Abu Hurairah, bahwasannya ia berkata : “Mandi hari Jum’at adalah wajib bagi setiap orang yang sudah bermimpi (baligh), seperti mandi janaabah”.
[tanpa menyebutkan perantara Abu Sa’iid Al-Maqburiy]
Diriwayatkan oleh Maalik dalam Al-Muwaththa’ 1/440 no. 240 dari darinya ‘Abdurrazzaaq dalam Al-Mushannaf no. 5305, dan Ibnul-Mundzir dalam Al-Ausath no. Ibnul-Mudhaffar Al-Bazzaaz dalam Gharaaibul-Maalik no. 90.
Inilah yang mahfuudh menurut Ad-Daaraquthniy rahimahullah.
b.     Ta’liil Abu Haatim Ar-Raaziy rahimahullah.
Abu Haatim Ar-Raaziy rahimahullah berkata :
وَهِمَ يَزِيدُ بْنُ سَعِيدٍ فِي إِسْنَادِ هَذَا الْحَدِيثِ، إِنَّمَا يَرْوِيهِ مَالِكٌ بِإِسْنَادٍ مُرْسَلٌ
“Yaziid bin Sa’iid telah ragu/keliru dalam membawakan sanad hadits ini. Maalik hanyalah meriwayatkan hadits tersebut dengan sanad mursal” [Al-‘Ilal 2/560 no. 591].
Tidak ada yang mengikuti Yaziid dalam periwayatan hadits tersebut dari Maalik secara marfuu’. Yaziid telah diselisihi oleh ashhaab Maalik yang kedudukannya lebih tinggi daripada Yaziid, seperti Asy-Syaafi’iy, ‘Abdullah bin Wahb, Wakii’ bin Al-Jarraah, Yahyaa bin Sa’iid Al-Qaththaan, Al-Qa’nabiy, Zaid bin Al-Hubbaab, Yahyaa Al-Laitsiy, dan Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibaaniy; dimana mereka semua meriwayatkan hadits itu secara mursal dari jalur Maalik, Az-Zuhriy, dari ‘Ubaid bin Sabbaaq, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
عَنْ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ ابْنِ السَّبَّاقِ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي جُمُعَةٍ مِنَ الْجُمَعِ: ” يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ إِنَّ هَذَا يَوْمٌ جَعَلَهُ اللَّهُ عِيدًا فَاغْتَسِلُوا، وَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ طِيبٌ فَلَا يَضُرُّهُ أَنْ يَمَسَّ مِنْهُ، وَعَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ
Dari Ibnu Syihaab, dari Ibnus-Sabbaaq : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda pada suatu hari Jum’at : “Wahai sekalian kaum muslimin, sesungguhnya hari ini telah Allah jadikan sebagai hari ‘Ied. Maka mandilah kalian !. Barangsiapa yang mempunyai wewangian, pakailah. Dan hendaklah kalian bersiwak”.
‘Ubaid bin As-Sabbaaq adalah seorang taabi’iy yang tsiqah.
Diriwayatkan oleh Maalik dalam Al-Muwaththa’ 1/349-152 no. 151 dan darinya Asy-Syaafi’iy dalam Al-Umm 1/216, Ibnu Wahb dalam Al-Muwaththa’ no. 217, Ibnu Abi Syaibah no. 5052, Musaddad sebagaimana dibawakan Ibnu Hajar dalam Al-Mathaalib no. 723, Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa 3/243 (3/345) no. 5959, Al-Jauhariy dalam Musnad Al-Muwaththa’, dan Abu Ahmad Al-Haakim dalam ‘Awaaliy Maalik bin Anas no. 15.
Riwayat mursal inilah yang mahfudh menurut Abu Haatim rahimahullah.
Hadits ‘Ubaid bin As-Sabbaaq yang mursal ini disambungkan oleh Ibnu Maajah no. 1098, Ath-Thuusiy dalam Al-Mukhtashar no. 491, Ath-Thabaraaniy dalam Ash-Shaghiir (Ar-Raudlud-Daaniy) no. & dalam Al-Ausath no. 7355, Abu Ahmad Al-Haakim dalam ‘Awaaliy Maalik bin Anas no. 16, Aslam bin Sahl dalam Taariikh Waasith 1/299, dan Abu Nu’aim dalam Taariikh Ashbahaan 2/130; semuanya dari jalan ‘Ammaar bin Khaalid Al-Waasithiy, dari ‘Aliy bin Ghuraab, dari Shaalih bin Abil-Akhdlar, dari Az-Zuhriy, dari ‘Ubaid bin As-Sabbaaq, dari Ibnu ‘Abbaas, dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Namun riwayat maushul ini tidak shahih, karena ‘an’anah ‘Aliy bin Ghuraab – sedangkan ia seorang mudallis[1] – dan kelemahan Shaalih bin Abil-Akhdlar[2].
Ada syaahid dari hadits marfuu’ Anas bin Maalik dengan lafadh semisal sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa 3/243 (3/345) no. 5961 dan dalam Syu’abul-Iimaan no. 2732, dan Ibnu ‘Abdil-Barr dalam At-Tamhiid 11/212; semuanya dari jalan Yahyaa bin ‘Utsmaan bin Shaalih, dari ayahnya, dari Ibnu Lahii’ah, dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihaab Az-Zuhriy, dari Anas : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “…..(al-hadits)….”
Riwayat ini lemah dikarenakan Ibnu Lahii’ah. Ia seorang yang shaduuq, namun menjadi kacau hapalannya setelah kitab-kitabnya terbakar. Tidak diketahui apakah ‘Utsmaan bin Shaalih As-Sahmiy mendengar sebelum atau setelah kitab-kitab Ibnu Lahii’ah terbakar[3]. Namun kemungkinan besar, riwayat ini termasuk riwayat-riwayat yang didengar ‘Utsmaan dari Ibnu Lahii’ah setelah kitabnya terbakar karena riwayatnya menyelisihi riwayat-riwayat yang disebutkan di atas. Oleh karena itu Al-Baihaqiy setelah membawakan riwayat Anas berkata :
وَالصَّحِيحُ مَا رَوَاهُ مَالِكٌ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ مُرْسَلا
“Dan yang benar adalah yang diriwayatkan Maalik dari Ibnu Syihaab secara mursal” [As-Sunan Al-Kubraa, 3/243 (3/345) no. 5961].
Faedah-Faedah :
1.     Shahih atau hasannya dhahir suatu sanad tidak serta-merta mengkonsekuensikan shahihnya riwayat, karena kemungkinan ada ‘illat tersembunyi yang terdapat dalam jalur periwayatan lain dan kritikan yang diberikan oleh para ulama ahli naqd terhadap riwayat dimaksud.
2.     Para ulama berbeda pendapat tentang hukum mandi Jum’at. Ada yang mewajibkan secara mutlak, ada yang mewajibkan jika badannya bau (jika tidak, maka hanya sunnah saja), dan ada pula yang hanya berpendapat sunnah saja secara mutlak.
a.      Dalil-dalil utama yang dipakai ulama yang mewajibkannya antara lain adalah :
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ
Dari Abu Sa’iid Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Mandi pada hari Jum’at adalah wajib bagi setiap orang yang telah bermimpi (baligh)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 858 & 879 & 880 & 895 & 2665, Muslim no. 846, dan yang lainnya].
عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” عَلَى كُلِّ رَجُلٍ مُسْلِمٍ فِي كُلِّ سَبْعَةِ أَيَّامٍ غُسْلُ يَوْمٍ وَهُوَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ “
Dari Jaabir, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Wajib bagi setiap laki-laki muslim untuk mandi satu hari setiap tujuh hari, yaitu mandi pada hari Jum’at” [Diriwayatkan oleh An-Nasaa’iy no. 1378; dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albaaniy dalam Shahiih Sunan An-Nasaa’iy, 1/444].
عَنْ طَاوُس: قُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ: ذَكَرُوا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” اغْتَسِلُوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْسِلُوا رُءُوسَكُمْ، وَإِنْ لَمْ تَكُونُوا جُنُبًا وَأَصِيبُوا مِنَ الطِّيبِ “، قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: أَمَّا الْغُسْلُ فَنَعَمْ، وَأَمَّا الطِّيبُ فَلَا أَدْرِي
Dari Thaawus : Aku pernah bertanya kepada Ibnu ‘Abbaas : Orang-orang menyebutkan bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Mandilah pada hari Jum’at dan basuhlah kepala kalian sekalipun tidak sedang junub, dan pakailah wewangian.” Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa menjawab : “Adapun mandi, maka memang benar beliau mengatakannya, sedangkan memakai wewangian aku tidak tahu” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 884 dan Muslim no. 848].
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمُ الْجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ “
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Apabila salah seorang di antara kalian mendatangi shalat Jum’at, hendaknya ia mandi (terlebih dahulu)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 877 & 894 & 919 dan Muslim no. 844].
Dhahir hadits-hadits di atas menyatakan kewajibannya dan perintah yang tegas untuk melakukan mandi Jum’at.
b.      Dalil-dalil utama yang dipakai ulama yang tidak mewajibkannya antara lain :
عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَنْ تَوَضَّأَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَبِهَا وَنِعْمَتْ، وَمَنِ اغْتَسَلَ فَالْغُسْلُ أَفْضَلُ “.
Dari Samurah bin Jundab, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang berwudlu pada hari Jum’at maka itu sudah cukup dan baik. Dan barangsiapa yang mandi, maka itu lebih utama (afdlal)” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 497, Abu Daawud no. 354, An-Nasaa’iy no. 1380, dan yang lainya dari jalan Qataadah, dari Al-Hasan, dari Samurah bin Jundab; shahih[4]].
Hadits ini sangat jelas menunjukkan wudlu telah mencukup, sedangkan mandi hanya merupakan keutamaan saja (bukan wajib).
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ وَسِوَاكٌ، وَيَمَسُّ مِنَ الطِّيبِ مَا قَدَرَ عَلَيْهِ
Dari ‘Abdurrahmaan bin Abi Sa’iid Al-Khudriy, dari ayahnya : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Mandi pada hari Jum’at adalah wajib bagi setiap orang yang telah bermimpi (baligh). Begitu juga dengan bersiwak dan memakai wewangian jika ia mampu melakukannya’ [Diriwayatkan oleh Muslim no. 846 dan Abu Daawud no. 344].
Telah menjadi kesepakatan bahwa bersiwak dan memakai wewangian pada hari Jum’at tidaklah wajib. Oleh karenannya ketika mandi Jum’at digabungkan dengan keduanya dalam satu lafadh dan hukum, maka mandi Jum’at di sini tidak bermakna wajib. Makna wajib yang terdapat dalam hadits hanyalah menunjukkan penekanan yang sangat (sunnah muakkadah) saja.
c.      Dalil-dalil utama yang dipakai ulama yang mewajibkan hanya jika badannya bau adalah hadits yang dibawakan kelompok kedua (b) ditambah dengan :
عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّهَا قَالَتْ: كَانَ النَّاسُ يَنْتَابُونَ الْجُمُعَةَ مِنْ مَنَازِلِهِمْ مِنَ الْعَوَالِي فَيَأْتُونَ فِي الْعَبَاءِ وَيُصِيبُهُمُ الْغُبَارُ، فَتَخْرُجُ مِنْهُمُ الرِّيحُ، فَأَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنْسَانٌ مِنْهُمْ وَهُوَ عِنْدِي، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” لَوْ أَنَّكُمْ تَطَهَّرْتُمْ لِيَوْمِكُمْ هَذَا “
Dari ‘Aaisyah, ia berkata : “Manusia datang menghadiri Jum’at dari rumah-rumah mereka yaitu dari Al-‘Awaaliy. Mereka datang dengan mengenakan mantel dan debu juga menimpa mereka. Maka keluarlah bau tidak sedap dari badan mereka. Salah diantara mereka mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yang saat itu beliau ada di sisiku. Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Seandainya kalian bersuci (mandi) untuk hari kalian ini” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 902 dan Muslim no. 847 (6)].
عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّهَا قَالَتْ: ” كَانَ النَّاسُ أَهْلَ عَمَلٍ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ كُفَاةٌ فَكَانُوا يَكُونُ لَهُمْ تَفَلٌ، فَقِيلَ لَهُمْ لَوِ اغْتَسَلْتُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ “
Dari ‘Aaisyah, bahwasannya ia berkata : Dulu orang-orang merupakan pekerja keras yang tidak memiliki pelayan, sehingga tubuh mereka mengeluarkan bau yang tidak sedap. Dikatakanlah kepada mereka : “Seandainya kalian mandi pada hari Jum’’at” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 847].
عَنْ جَابِر بْن عَبْدِ اللَّهِ ، قَالَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” مَنْ أَكَلَ ثُومًا، أَوْ بَصَلًا، فَلْيَعْتَزِلْنَا أَوْ لِيَعْتَزِلْ مَسْجِدَنَا، وَلْيَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ،
Dari Jaabir bin ‘Abdillah, ia berkata : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang makan bawang putih atau bawang merah, hendaklah ia memisahkan diri dari kami atau masjid kami. Dan hendaklah ia duduk di rumahnya….” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 855 dan Muslim no. 564].
Dalam riwayat lain dari Jaabir secara marfuu’ :
مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ الْمُنْتِنَةِ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ الإِنْسُ
Barangsiapa yang makan sayuran yang busuk baunya ini (yaitu bawang putih), janganlah ia mendekati masjid kami, karena malaikat akan terganggu dengan bau yang menyebabkan manusia merasa terganggu darinya” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 563].
Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa sesuatu yang dapat mengganggu manusia di masjid berupa bau busuk wajib untuk dijauhkan, sehingga sarana untuk dapat menghilangkannya pun (yaitu : mandi) dihukumi wajib.
Dengan melihat pendalilan yang dibawakan tiga kelompok ulama di atas, maka pendapat kedua dan ketiga adalah berdekatan. Pada asalnya mandi Jum’at tidaklah wajib. Namun jika seseorang badannya mengeluarkan bau yang sangat menyengat dan mengganggu orang-orang yang ada di sekitarnya, maka ia wajib mandi agar bau yang ada di badannya dapat dihilangkan, atau minimal dikurangi.
3.     Beberapa ulama berkonklusi dengan hadits yang ada dalam bahasan di atas tentang disunnahkannya mandi pada hari ‘Ied (sebelum shalat).[5] Loh, kok bisa ?. Hadits di atas menyebutkan ‘illat disyari’atkannya (dianjurkannya) mandi Jum’at adalah karena Allah ta’ala telah menjadikan hari tersebut sebagai ‘Ied. Anjuran mandi pada hari Jum’at tersebut diqiyaskan dengan ‘Iedul-Fithri dan ‘Iedul-Adlhaa karena adanya kesamaan ‘illat.
Namun sebagaimana telah lewat, hadits di atas adalah lemah (dla’iif).
Tidak ada dalil shahih dan sharih dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang anjuran mandi pada hari ‘Iedain (sebelum shalat). Meskipun demikian, amalan itu merupakan amalan masyhur di kalangan salaf.
عَنْ نَافِعٍ، أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى
Dari Naafi’ : Bahwasannya ‘Abdullah bin ‘Umar biasa mandi pada hari raya ‘Iedul-Fithri sebelum berangkat (ke mushalla) [Diriwayatkan oleh Maalik 2/85-86 no. 468; shahih].
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ، عَنْ زَاذَانَ، أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ عَلِيًّا عَنِ الْغُسْلِ، فَقَالَ: ” الْغُسْلُ يَوْمَ الْأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ “
Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Syu’bah, dari ‘Amru bin Murrah, dari Zaadzaan : Bahwasannya ada seorang laki-laki bertanya kepada ‘Aliy (bin Abi Thaalib) tentang mandi. Ia (‘Aliy) menjawab : “Mandi dilakukan pada hari ‘Iedul-Adlhaa dan ‘Iedul-Fithri” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/181 (4/230) no. 5822; shahih].
ثنا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، ثنا لَيْثٌ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ خَالِدٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ، أَنَّهُ قَالَ: ” سُنَّةُ الْفِطْرِ ثَلاثٌ: الْمَشْيُ إِلَى الْمُصَلَّى، وَالأَكْلُ قَبْلَ الْخُرُوجِ، وَالاغْتِسَالُ “
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’iid : Telah menceritakan kepada kami Laits, dari ‘Abdurrahmaan bin Khaalid, dari Ibnu Syihaab, dari Sa’iid bin Al-Masayyib, ia berkata : “Sunnah ‘Iedul-Fithri itu ada tiga : berjalan kaki menuju mushalla, makan sebelum keluar mushalla, dan mandi” [Diriwayatkan oleh Al-Faryaabiy dalam Ahkaamul-‘Iedain no. 18 & 26; shahih].
An-Nawawiy rahimahullah berkata :
فقال الشافعي والاصحاب يستحب الغسل للعيدين وهذا لا خلاف فيه والمعتمد فيه أثر ابن عمر والقياس علي الجمعة
“Asy-Syaafi’iy dan shahabat-shahabatnya menyukai mandi untuk ‘Iedain. Tidak ada perbedaan pendapat padanya. Dan yang mu’tamad dalam permasalahan tersebut (anjuran mandi ‘Ied) adalah atsar Ibnu ‘Umar dan pengqiyasan terhadap hari Jum’at” [Al-Majmuu’, 5/7].
Waktu mandi hari ‘Ied yang paling utama adalah setelah terbit fajar.
Ibnu Qudaamah rahimahullah berkata :
وَقَالَ ابْنُ عَقِيلٍ : الْمَنْصُوصُ عَنْ أَحْمَدَ أَنَّهُ قَبْلَ الْفَجْرِ وَبَعْدَهُ ؛ لِأَنَّ زَمَنَ الْعِيدِ أَضْيَقُ مِنْ وَقْتِ الْجُمُعَةِ ، فَلَوْ وُقِفَ عَلَى الْفَجْرِ رُبَّمَا فَاتَ ، وَلِأَنَّ الْمَقْصُودَ مِنْهُ التَّنْظِيفُ ، وَذَلِكَ يَحْصُلُ بِالْغُسْلِ فِي اللَّيْلِ لِقُرْبِهِ مِنْ الصَّلَاةِ ، وَالْأَفْضَلُ أَنْ يَكُونَ بَعْدَ الْفَجْرِ ، لِيَخْرُجَ مِنْ الْخِلَافِ ، وَيَكُونَ أَبْلَغَ فِي النَّظَافَةِ ، لِقُرْبِهِ مِنْ الصَّلَاةِ
“Ibnu ‘Uqail berkata : Yang ternukil secara dari Ahmad bahwa waktu mandi itu (boleh) sebelum dan setelah terbitnya fajar, karena waktu ‘Ied lebih sempit daripada waktu Jum’at. Seandainya terpaku pada fajar, barangkali malah terlewat. Dan hal itu dikarenakan maksud pelaksanaan mandi adalah untuk memberishkan badan. Maka, maksud tersebut dalam terlaksana dengan mandi di waktu malam karena dekatnya waktu shalat. Dan yang lebih utama (afdlal) dilakukan setelah fajar dalam rangka keluar dari khilaaf (perbedaan pendapat), serta lebih bersih karena dekatnya waktu shalat” [Al-Mughniy, 2/228].
An-Nawawiy rahimahullah berkata :
وفى وقت صحة هذا الغسل قولان مشهوران (أحدهما) بعد طلوع الفجر نص عليه في الام (وأصحهما) باتفاق الاصحاب يجوز بعد الفجر وقبله
 “Tentang waktu sahnya mandi ‘Ied, terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah dilaksanakan setelah terbitnya fajar. Hal tersebut ditegaskan dalam kitab Al-Umm. Pendapat inilah adalah yang paling benar dengan kesepakatan shahabat-shahabat kami (ulama Syaafi’iyyah). Diperbolehkan juga dilaksanakan sebelum dan setelah fajar” [Al-Majmuu’, 5/7].
Wallaahu a’lam.
Ini saja yang dapat dituliskan, semoga ada manfaatnya.

 

[1]      ‘Aliy bin Ghuraab Al-Fazaariy, Abul-Hasan/Abul-Waliid Al-Kuufiy Al-Qaadliy; seorang yang shaduuq, dan sering melakukan tadliis lagi bertasyayyu’. Termasuk thabaqah ke-8 dan wafat tahun 184 H. Dipakai oleh An-Nasaa’iy dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 703 no. 4817].
Dimasukkan Ibnu Hajar dalam jajaran mudallis tingkatan ketiga [Thabaqaatul-Mudallisiin/Ta’riifu Ahlit-Taqdiis, hal. 99 no. 89.
[2]      Shaalih bin Abil-Akhdlar Al-Yamaamiy; seorang yang dla’iif. Termasuk thabaqah ke-7 dan wafat setelah tahun 140 H. Dipakai oleh Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 443 no. 2860].
[4]      Sebagian ulama men-ta’liil riwayat ini karena keterputusan antara Al-Hasan dengan Samurah radliyallaahu ‘anhu.
Para ulama berbeda pendapat dalam tiga kelompok terhadap permasalahan riwayat Al-Hasan dari Samurah.
Kelompok pertama menyatakan penafikan kebersambungannya. Pendapat ini dipegang oleh Syu’bah, Yahyaa Al-Qaththaan (ia berpendapat riwayat Al-Hasan dari Samurah melalui perantaraan kitab), Ibnu Ma’iin, Ahmad bin Hanbal, dan Ibnu Hibbaan rahimahumullah.
Kelompok kedua menyatakan menyatakan Al-Hasan tidak mendengar hadits Samurah kecuali hadits tentang ‘aqiqah. Pendapat ini dipegang oleh An-Nasaa’iy, Ad-Daaraquthniy, Al-Bazzaar, Al-Baihaqiy, Ibnu Hazm, Ibnu ‘Abdil-Barr, Al-Mundziriy, dan ‘Abdul-Haq Al-Isybiliy rahimahumullah.
Kelompok ketiga berpendapat bahwa Al-Hasan mendengar hadits Samurah secara mutlak. Pendapat ini dipegang oleh ‘Aliy bin Al-Madiiniy, Al-Bukhaariy, At-Tirmidziy, Abu Daawud, Al-Haakim, An-Nawawiy, dan Adz-Dzahabiy rahimahumullah.
Yang raajih dalam permasalahan ini – wallaahu a’lam – adalah pendapat kelompok ketiga, karena terbukti Al-Hasan berjumpa dan mendengar Samurah bin Jundab hadits ‘aqiqah dan selainnya [silakan baca pembahasannya dalam kitab At-Taabi’uun Tsiqaat oleh Dr. Mubaarak Al-Hajuuriy, 1/238-255].

[5]      Misalnya : Bahaauddiin Al-Maqdisiy (Abu Muhammad ‘Abdurrahmaan bin Ibraahiim Al-Anshaariy) rahimahullah dalam Al-‘Uddah fii Syarh Al-‘Umdah 1/146-147