Masjid-Hagi-Sofia-di-Turki

Sejarah Kerajaan Turki Utsmani

Setelah Khilafah Abbasiyah di Baghdad  runtuh akibat serangan tentara Mongol, kekuatan politik Islam mengalami kemunduran secara drastis. Wilayah kekuasaannya tercabik-cabik dalam beberapa kerajaan kecil yang satu sama lain saling memerangi. Beberapa peninggalan budaya dan peradaban Islam banyak yang hancur akibat serangan bangsa Mongol itu, Keadaan politik umat Islam secara keseluruhan baru mengalami kemajuan kembali setelah muncul dan berkembangnya tiga kerajaan besar, diantaranya Usmani di Turki, Mughal di India dan Safawi di Persia (Iran). Kerajaan Usmani ini adalah yang pertama berdiri juga yang terbesar dan paling lama bertahan dibanding dua kerajaan lainnya.

Dalam perkembangannya dunia islam selalu mengalami pasang surut dan disini saya akan memaparkan tentang periode-periode yang ada pada kerajaan Turki Usmani mulai dari awal berdirinya sampai keruntuhannya, karena kerajaan Turki Usmani inilah yang menjadi sebuah pionir dalam perkembangan dunia islam pada masanya dan juga kehancurannya menjadi sebuah pembuka masuknya era industrialisasi ke dunia islam.

Asal Mula Turki Utsmani

Kerajaan Turki Usmani didirikan oleh suku bangsa pengembara yang berasal dari wilayah Asia Tengah, yang termasuk suku  kayi. Ketika bangsa Mongol menyerang dunia Islam, pemimpin suku Kayi, Sulaiman Syah, mengajar anggota sukunya untuk menghindari serbuan bangsa Mongol tersebut dari lari ke arah barat. Bangsa Turki Usmani berasal dari keluarga Qabey salah satu kabilah Al-Ghaz Al-Turki, yang mendiami daerah Turkistan. Pemimpinnya yang terkenal bernama Sulaiman yang membawa kabilahnya sesuai perang milaz kurd, mengembara ke Asia kecil. Akan tetapi ditengah perjalanan, tepatnya di daerah perbatasan Halb, Sulaiman meninggal dunia, sehingga rombongan pengembara tersebut menjadi bimbang apakah terus melanjutkan pengembaraannya atau pulang kembali ke tempat asal mereka. Rombongan pengembara tersebut akhirnya pecah menjadi dua kelompok. Kelompok kedua yang melanjutkan perjalanannya dan memilih putra Sulaiman, Ertoghrul sebagai pimpinan mereka. Sesampainya di asia kecil rombongan Ertoghrul mengabdikan diri kepada Sultan Seljuk bernama Sultan Alauddin II yang mana saat itu berperang dengan Byzantium, maka Ertoghrul bersama rombongan pun segera membantu pasukan tentara Alauddin.

Setelah mendapatkan kemenangan, mereka mendapatkan hadiah berupa sebuah wilayah yang berdekatan dengan Byzantium. Sejak saat itulah mereka menetap disana. Pada 1289 Masehi, Ertoghrul meninggal dunia dan posisinya digantikan oleh anaknya, Utsman. Ditangan Utsman inilah berdiri kerajaan Turki Utsmani. Kemudian pada 1300 M, ada serangan dari Mongol terhadap Seljuk, dan kerajaan Seljuk mengalami kekalahan. Sejak saat itu Seljuk mengalami kemunduran. Maka Utsman menyatakan bahwa dia berkuasa penuh atas wilayah yang ditempatinya itu dan mengangkat dirinya sebagai raja dan mendapatkan sebutan sebagai Raja Utsman.

Periode Kemajuan Turki Utsmani

Sepeninggal Sultan Usman pada Tahun 1326 M, Kerajaan di pimpin oleh anaknya Sultan Orkhan I (1326-1359 M). Pada masanya berdiri Akademi Militer sebagai pusat pelatihan dan pendidikan, sehingga mampu menciptakan kekuatan militer yang besar dan dengan mudahnya dapat menaklukan sebagian daerah benua Eropa yaitu, Azmir (Shirma) tahun 1327 M, Tawasyanli 1330 M, Uskandar 1338 M, Ankara 1354 M dan Galliopoli 1356 M. Ketika Sultan Murad I (1359-1389 M) pengganti Orkhan naik. Ia memantapkan keamanan dalam negeri dan melakukan perluasan ke benua Eropa dengan menaklukan Adrianopel (yang kemudian menjadi ibu kota kerajaan baru) , Macedonia, Sopia, Salonia, dan seluruh bagian utara Yunani. Merasa cemas dengan kesuksesan Kerajaan Usmani, negara Kristen Eropa pun bersatu yang dipimpin oleh Sijisman memerangi kerajaan, hingga terjadilah pertempuran di Kosovo tahun 1389 M, namun musuh dapat di pukul mundur dan di hancurkan.

Pada tahun 1389 M, Sultan Bayazid (1389-1403 M) naik tahta. Perluasan berlanjut dan dapat menguasai Salocia, Morea, Serbia, Bulgaria, dan Rumania juga pada tahun 1394 M, memperoleh kemenangan dalam perang Salib di Nicapolas. Selain menghadapi musuh-musuh Eropa, Kerajaan juga dipaksa menghadapi pemberontak yang bersekutu dengan raja islam yang bernama Timur Lenk di Samarkand. Pada tahun 1402 M pertempuran hebat pun terjadi di Ankara, yang pada akhirnya Sultan Bayazid dengan kedua putranya Musa dan Ertoghrul, tertangkap dan meninggal di tahanan pada tahun1403 M. Sebab kekalahan ini Bulgaria dan Serbia memproklamirkan kemerdekaannya.Setelah Sultan Bayazid meninggal, terjadi perebutan kekuasaan di antara putra-putranya (Muhammad, Isa dan Sulaiman) namun di antara mereka Sultan Muhammad I (1403-1421 M) yang naik tahta, di masa pemerintahannya ia berhasil menyatukan kembali kekuatan dan daerahnya dari bangsa mongol, terlebih setelah Timur Lenk meninggal pada tahun 1405 M. Pada tahun 1421 M, Sultan Muhammad meninggal dan di teruskan oleh anaknya, Sultan Murad II (1421-1484 M) hingga mencapai banyak kemajuan pada masa Sultan Muhammad II/Muhammad Al Fatih (1451-1484 M) putra Murad II. Pada masa Muhammad II, tahun 1453 M ia dapat mengalahkan Bizantium dan menaklukan Konstantinopel. Setelah Beliau meninggal digantikan oleh putranya Sultan Bayazid II berbeda dengan ayahnya, Sultan Bayazid II (1481-1512 M) lebih mementingkan kehidupan tasawuf dari pada penaklukan wilayah, sebab itu muncul kontroversial akhirnya ia mengundurkan diri dan di gantikan putranya Sultan Salim I.

Pada masa Sultan Salim I (1521-1520 M) terjadi perubahan peta arah perluasan, memfokuskan pergerakan ke arah timur dengan menaklukan Persia, Syiria hingga menembus Mesir di Afrika Utara yang sebelumnya dikuasai mamluk. Setelah Sultan Salim I Meninggal, Muncul putranya Sultan Sulaiman I (1520-1566 M) sebagai Sultan yang mengantarkan Kerajaan Turki Usmani pada masa keemasannya, karena telah berhasil menguasai daratan Eropa hingga Austria, Bulgaria, Yunani, Yugoslavia, Albania, Hongaria dan Rumania, Afrika Utara hingga Mesir, Aljazair, Libia, Dan Tunis. Asia hingga Persia, Amenia, Syiria. Meliputi lautan Hindia, Laut Arabia, Laut Tengah, Laut Hitam. juga daerah-daerah di sekitar kerajaan seperti Irak, Belgrado, Pulau Rhodes, Tunis, Budapest dan Yaman.

Periode Kemunduran

Setelah Beliau meninggal di gantikan putranya Sultan Salim II (1566-1573 M) yang mana sejarah mencatat sebagai titik awal masa kemunduran Kerajaan Turki Usmani setelah berkuasa lebih dari 2 setengah abad. Pada masa pemerintahan Salim II, Terjadi pertempuran dengan Armada Laut Kristen yang dipimpin oleh Don Juan dari Spanyol di Selat Liponto, Yunani. Turki Usmani kalah yang mengakibatkan Tunisia dapat direbut musuh. Pengganti Salim II adalah Sultan Murad III ((1574-1595 M) ia dapat menyerbu Kaukasus, dan menguasai Tiflis di laut Hitam pada tahun 1577 M, merebut kembali Tabriz, dan menundukan Georgia. Namun karena berkepribadian jelek dan suka memperturutkan hawa nafsunya, muncul kekacauan dalam negeri. Kekacauan pun menjadi-jadi setelah Sultan Muhammad III (1595-1603 M) naik tahta. Austria berhasil memukul kerajaan yang menjadikan wibawa Kerajaan Turki Usmani hilang di mata bangsa-bangsa Eropa.

Selanjutnya Sultan Ahmad I (1603-1617 M) naik tahta. Ia bangkit kembali berusaha memperbaiki situasi dalam negeri, namun hasilnya kurang maksimal. Sesudah Sultan Ahmad I, keadaan semakin memburuk setelah naiknya Sultan Mustafa (1617-1618 M dan 1622-1623 M) pada awalnya dia hanya setahun menjabat karena tidak bisa mengatasi gejolak politik dalam negeri sehingga di paksa turun melalui Fatwa Syaikh Al Islam. Setelah Mustafa turun, digantikan oleh Sultan Usman II (1618-1622 M), Namun Ia juga tidak mampu memperbaiki keadaan, hingga Persia lepas dari kekuasaan. Dan di lanjutkan kembali oleh Sultan Mustafa namun hanya setahun, Ia pun di gantikan oleh Sultan Murad IV (1623-1640M) yang kemudian mampu memperbaiki, menyusun dan menertibkan pemerintahan kembali. Namun situasi kembali berubah setelah Sultan Ibrahim (1640-1648 M) naik tahta pada masanya, orang-orang Venesia berhasil mengusir Turki Usmani dari Cyprus dan Creta tahun 1645 M.

Sebab kekalahan itu kekuasaan yang dipegang oleh Muhammad Koprulu sebagai perdana menteri yang diberi kekuasaan absolut, berhasil mengupayakan stabilitas negara. Sepeninggal Koprulu, kerajaan dipegang oleh anaknya, Ibrahim. Sejak di pimpin Ibrahim, kerajaan selalu kalah dalam peperangan sehingga banyak wilayah yang melepaskan diri dari kerajaan dan terebut oleh Bangsa Eropa. Pada tahun 1699 M, terjadi perjanjian Korlowith yang memaksa Kesultanan Turki Utsmani melepaskan Hongaria, Slovenia, Kroasia kepada Hapsburg dan Hemenietz. Podolia, Ukraina, Morea, dan Dalmatia kepada bangsa Venetia. Pada tahun 1770 M, Bangsa Rusia pun dapat mengalahkan Turki Usmani di sepanjang pantai Asia kecil. Walaupun kelak dapat di kuasai kembali pada masa Sultan Mustafa III (1757-1774 M) Setelah sultan Mustafa III, digantikan oleh Sultan yang lemah, yaitu Sultan Abdul Hamid (1774-1789 M). Ia mengadakan perjanjian Kinarja dengan Catherine II dari Rusia. Yang mana Kerajaan diharuskan menyerahkan benteng-benteng yang ada di laut hitam, mengizinkan armada Rusia melewati Selat antara laut hitam dan putih, dan mengakui kemerdekaan Crimea.

Sejak itu kemunduran terus berlanjut hingga muncul pergerakan Turki Muda sebagai oposisi, dari kalangan pelajar perguruan tinggi yang berusaha menjatuhkan sistem monarki kesultanan Turki Usmani. Gerakan ini dipelopori oleh Murad Bey, Ahmad Reza, dan pangeran Salahudin pada tahun 1920 M, muncul pula pergerakan militer yang di kepalai oleh Mustafa Kemal Attaturk berserta tokoh nasionalis lainya seperti Yusuf Akcura dan Zia Gokalp, mereka mendirikan Dewan Nasional di Ankara. Pada tahun 1924 M, majelis ini pun mengeluarkan deklarasi yang mengangkat Mustafa Kemal Attaturk sebagai presiden dan merubah kerajaan menjadi negara republik.

Peradaban yang berkembang

Pada bidang militer dan pemerintahan

  1. Adanya Akademi militer sebagai pusat pendidikan dan pelatihan.
  2. Terbentuknya tentara tangguh Jenissari dan Taujiah.
  3. Adanya Kitab Muqtadha Al-Abhur, sebagai Undang-Undang Pemerintahan.
  4. Adanya perdana menteri sebagai pembantu raja dalam pemerintahan, dan disetiap daerah terdapat kepemimpinan lokal yang setara dengan gubernur sekarang.

Pada Bidang Ilmu Pengetahuan dan seni budaya

Sebab Turki Usmani kurang fokus terhadap ilmu pengetahuan, maka bidang ilmu pengetahuan pun kurang menonjol tidak seperti dinasti islam sebelumnya. Adapun beberapa tokoh termasyhur dari beberapa disiplin ilmu yang muncul kala itu, di antaranya :

  1. Abdulrauf Al Manawy dan Abdul Wahab Syaqrany , sebagai ahli hadis dan tasawuf.
  2. As Shadar bin Abdurrahman Al Akhdhary, sebagai ahli Filsafat dan mantiq.
  3. Daud Inthaqy dan Sahabudin bin Salamah Qaliyuby, ahli dalam bidang kedokteran.
  4. Ibnu Hasan Samarkandy, sebagai ahli ilmu politik.
  5. Qari Al Harawy, sebagai ahli musik.
  6. Ibnu Diba Az Zabidy dan Abdul Ghani An Nablusy, sebagai ahli sejarah.
  7. Aisyah Baquniyah dan Ali khan, sebagai ahli sastra.
  8. Abdulqadir Baghdady dan Az zabidy, sebagai ahli bahasa.
  9. Muammar Sinan, sebagai ahli di bidang arsitektur.
  10. Musa Azam, Sebagai ahli seni.

Adapun mengenai budaya sosial, budaya Turki Usmani sangat dipengaruhi oleh tiga budaya. Dari kebudayaan Persia mereka mengambil ajaran tentang etika dan tata krama dalam istana. Ajaran tentang prinsip-prinsip ekonomi, sosial, kemasyarakatan, dan keilmuan mereka mengambil dari Bangsa Arab. Sedangkan pemerintahan dan organisasi kemiliteran mereka banyak mengambil dari Byzantium.

Pada Bidang Keagamaan

  1. Adanya jabatan Mufti sebagai pejabat urusan agama tertinggi, yang memiliki kuasa legitimasi dalam hukum kerajaan.
  2. Berkembangnya Tarekat, seperti tarekat Bekhtsyi dan tarekat Maulawi.

Pada Bidang Ekonomi

Tercatat beberapa kota yang maju dalam bidang industri pada waktu itu di antaranya: Mesir sebagai pusat produksi kain sutra dan katun, Anatolia selain sebagai pusat produksi bahan tekstil dan kawasan pertanian yang subur, juga menjadi pusat perdagangan dunia pada saat itu.

 

Faktor-Faktor yang Menyebabkan Kehancuran Turki Utsmani

Adapun faktor-faktor yang menyebabkan kehancuran Turki Utsmani adalah sebagai berikut:

  1. Wilayah kekuasaan yang terlalu luas.
  2. Heterogenitas penduduk.
  3. Kelemahan para penguasa.
  4. Pemberontakan-pemberotakan.
  5. Merosotnya Ekonomi.
  6. Kurang berkembangnya ilmu pengetahuan. Geo.
kasih-sayang-2

Keutamaan Ibu Dalam Hidup Kita

Dikutip dari muslimah.co.id.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Al-Ahqaaf : 15)

Ayat diatas menjelaskan akan hak ibu terhadap anaknya. Ketahuilah, bahwasanya ukuran terendah mengandung sampai melahirkan adalah 6 bulan (pada umumnya adalah 9 bulan 10 hari), ditambah 2 tahun menyusui anak, jadi 30 bulan. Sehingga tidak bertentangan dengan surat Luqman ayat 14 (Lihat Tafsiir ibni Katsir VII/280)

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14)

Dalam ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil, kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar daripada kepada ayah. Sebagaimana dikemukakan dalam sebuah hadits,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Imam Al-Qurthubi menjelaskan, “Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalammenghadapi masa hamil, kesulitan ketikamelahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya.

al-Qadhi Iyadh menyatakan bahwa ibu memiliki keutamaan yang lebih besar dibandingkan ayah) Begitu pula dengan Imam Adz-Dzahabi rahimahullaah, beliauberkata dalam kitabnya Al-Kabaair,

Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan, seolah-olah sembilan tahun.

Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya.

Dia telah menyusuimu dari putingnya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu.

Dia cuci kotoranmu dengan tangan kirinya, dia lebih utamakan dirimu dari padadirinya serta makanannya.

Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu.

Dia telah memberikanmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu.

Seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suaranya yang paling keras.

Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik.

Dia selalu mendo’akanmu dengan taufik, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.

Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu.

Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar.

Engkau puas minum dalam keadaan dia kehausan.

Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu.

Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat.

Berat rasanya atasmu memeliharanya padahal itu adalah urusan yang mudah.

Engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek.

Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.

Padahal Allah telah melarangmu berkata ‘ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut.

Engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu.

Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul ‘aalamin. (Akan dikatakan kepadanya),

ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ

“Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya”. (QS. Al-Hajj : 10) (Al-Kabaair hal. 53-54, Maktabatush Shoffa, Dar Albaian)

Demikianlah dijelaskan oleh Imam Adz-Dzahabi tentang besarnya jasa seorang ibu terhadap anak dan menjelaskan bahwa jasa orang tua kepada anak tidak bisa dihitung. Yah, kita mungkin tidak punya kapasitas untuk menghitung satu demi satu hak-hak yang dimiliki seorang ibu. Islam hanya menekankan kepada kita untuk sedapat mungkin menghormati, memuliakan dan menyucikan kedudukan sang ibu dengan melakukan hal-hal terbaik yang dapat kita lakukan, demi kebahagiannya.

Contoh manusia terbaik yang berbakti kepada Ibunya

Dari Abi Burdah, ia melihat Ibnu ‘Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang yaman itu bersenandung,

إِنِّي لَهَا بَعِيْرُهَا الْمُـذِلَّلُ – إِنْ أُذْعِرْتُ رِكَابُهَا لَمْ أُذْعَرُ

Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh. Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.

Orang itu lalu bertanya kepada Ibn Umar, “Wahai Ibnu Umar, apakah aku telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar menjawab, “Engkau belum membalas budinya, walaupun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan.” (Adabul Mufrad no. 11; Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dalam sebuah riwayat diterangkan: Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya seseorang mendatanginya lalu berkata: bahwasanya aku meminang wanita, tapi ia enggan menikah denganku. Dan ia dipinang orang lain lalu ia menerimanya. Maka aku cemburu kepadanya lantas aku membunuhnya. Apakah aku masih bisa bertaubat? Ibnu Abbas berkata: apakah ibumu masih hidup? Ia menjawab: tidak. Ibnu Abbas berkata: bertaubatlah kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan dekatkanlah dirimu kepadaNya sebisamu. Atho’ bin Yasar berkata: maka aku pergi menanyakan kepada Ibnu Abbas kenapa engkau tanyakan tentang kehidupan ibunya? Maka beliau berkata: ‘Aku tidak mengetahui amalan yang paling mendekatkan diri kepada Allah ta’ala selain berbakti kepada ibu’. (Hadits ini dikeluarkan juga oleh Al Baihaqy di Syu’abul Iman (7313), dan Syaikh Al Albany menshahihkannya, lihat As Shohihah (2799)) Pada hadits di atas dijelaskan bahwasanya berbuat baik kepada ibu adalah ibadah yang sangat agung, bahkan dengan berbakti kepada ibu diharapkan bisa membantu taubat seseorang diterima Allah ta’ala. Seperti dalam riwayat di atas, seseorang yang melakukan dosa sangat besar yaitu membunuh, ketika ia bertanya kepada Ibnu Abbas, apakah ia masih bisa bertaubat, Ibnu Abbas malah balik bertanya apakah ia mempunyai seorang ibu, karena menurut beliau berbakti atau berbuat baik kepada ibu adalah amalan paling dicintai Allah sebagaimana sebagaimana membunuh adalah termasuk dosa yang dibenci Allah. Berbuat baik kepada ibu adalah amal sholeh yang sangat bermanfa’at untuk menghapuskan dosa-dosa.

Ini artinya, berbakti kepada ibu merupakan jalan untuk masuk surga.

Jangan Mendurhakai Ibu

Dalam sebuah hadits Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عن المغيرة بن شعبة قال : قال النبي صلى الله عليه و سلم : إن الله حرم عليكم عقوق الأمهات ووأد البنات ومنع وهات . وكره لكم قيل وقال وكثرة السؤال وإضاعة المال

“Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan kalian berbuat durhaka kepada ibu-ibu kalian, mengubur anak perempuan hidup-hidup, menolak kewajiban dan menuntut sesuatu yang bukan menjadi haknya. Allah juga membenci jika kalian menyerbarkan kabar burung (desas-desus), banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta.” (Hadits shahih, riwayat Bukhari, no. 1407; Muslim, no. 593, Al-Maktabah Asy-Syamilah)

Ibnu Hajar memberi penjelasan sebagai berikut, “Dalam hadits ini disebutkan ‘sikap durhaka’ terhadap ibu, karena perbuatan itu lebih mudah dilakukan terhadap seorang ibu. Sebab,ibu adalah wanita yang lemah. Selain itu, hadits ini juga memberi penekanan, bahwa berbuat baik kepada itu harus lebih didahulukan daripada berbuat baik kepada seorang ayah, baik itu melalui tutur kata yang lembut, atau limpahan cinta kasih yang mendalam.” (Lihat Fathul Baari V : 68)

Sementara, Imam Nawawi menjelaskan, “Di sini, disebutkan kata ‘durhaka’ terhadap ibu, karena kemuliaan ibu yang melebihi kemuliaan seorang ayah.” (Lihat Syarah Muslim XII : 11)

Buatlah Ibu Tertawa

((جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : جئْتُ أبَايِعُكَ عَلَى الْهِجْرَةِ، وَتَرَكْتُ أَبَوَيَّ يَبْكِيَانِ، فَقَالَ : ((اِرْخِعْ عَلَيْهِمَا؛ فَأَضْحِكْهُمَا كَمَا أَبْكَيْتَهُمَا

“Seseorang datang kepada Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Aku akan berbai’at kepadamu untuk berhijrah, dan aku tinggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis.”

Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis.” (Shahih : HR. Abu Dawud (no. 2528), An-Nasa-i (VII/143), Al-Baihaqi (IX/26), dan Al-Hakim (IV/152))

Jangan Membuat Ibu Marah

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ : رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَاالْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَلَدِ

“Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata, “Ridha Allah tergantung ridha orang tua dan murka Allah tergantung murka orang tua.“ (Adabul Mufrod no. 2. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan jika sampai pada sahabat, namun shahih jika sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) Kandungan hadits diatas ialah kewajiban mencari keridhaan kedua orang tua sekaligus terkandung larangan melakukan segala sesuatu yang dapat memancing kemurkaan mereka. Seandainya ada seorang anak yang durhaka kepada ibunya, kemudian ibunya tersebut mendo’akan kejelekan, maka do’a ibu tersebut akan dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana dalam hadits yang shahih Nabi Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ، لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ

“Ada tiga do’a yang dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak diragukan tentang do’a ini: (1) do’a kedua orang tua terhadap anaknya, (2) do’a musafir-orang yang sedang dalam perjalanan-, (3) do’a orang yang dizhalimin.” (Hasan : HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad (no. 32, 481/Shahiih Al-Adabil Mufrad (no. 24, 372))

Jika seorang ibu meridhai anaknya, dan do’anya mengiringi setiap langkah anaknya, niscaya rahmat, taufik dan pertolongan Allah akan senantiasa menyertainya. Sebaliknya, jika hati seorang ibu terluka, lalu ia mengadu kepada Allah, mengutuk anaknya. Cepat atau lambat, si anak pasti akan terkena do’a ibunya.

Wal iyyadzubillaah.. tidak terucap dari lisan ibu melainkan do’a kebaikan dan keridhaan untukmu. Karena Allah mendengarkan do’a seorang ibu dan mengabulkannya. Dan dekatkanlah diri kita pada sang ibu, berbaktilah, selagi masih ada waktu…

والله الموفّق إلى أقوم الطريق وصلى الله وسلم على نبينا وعلى آله وأصحابه ومن اتّبعهم بإحسان الى يوم الدين

hujan-deras

Keajaiban Hujan

Hujan merupakan salah satu perkara terpenting bagi kehidupan di muka bumi. Ia merupakan sebuah prasyarat bagi kelanjutan aktivitas di suatu tempat. Hujan–yang memiliki peranan penting bagi semua makhluk hidup, termasuk manusia–disebutkan pada beberapa ayat dalam Al-Qur’an mengenai informasi penting tentang hujan, kadar dan pengaruh-pengaruhnya.

Informasi ini, yang tidak mungkin diketahui manusia di zamannya, menunjukkan kepada kita bahwa Al-Qur’an merupakan kalam Allah. Sekarang, mari kita kaji informasi-informasi tentang hujan yang termaktub di dalam Al-Qur’an.

Kadar Hujan

Di dalam ayat kesebelas Surat Az-Zukhruf, hujan dinyatakan sebagai air yang diturunkan dalam “ukuran tertentu”. Sebagaimana ayat di bawah ini:

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ مَهْدًا وَجَعَلَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” (QS. Az-Zukhruf : 11)

“Kadar” yang disebutkan dalam ayat ini merupakan salah satu karakteristik hujan. Secara umum, jumlah hujan yang turun ke bumi selalu sama. Diperkirakan sebanyak 16 ton air di bumi menguap setiap detiknya. Jumlah ini sama dengan jumlah air yang turun ke bumi setiap detiknya. Hal ini menunjukkan bahwa hujan secara terus-menerus bersirkulasi dalam sebuah siklus seimbang menurut “ukuran” tertentu.

Pengukuran lain yang berkaitan dengan hujan adalah mengenai kecepatan turunya hujan. Ketinggian minimum awan adalah sekitar 12.000 meter. Ketika turun dari ketinggian ini, sebuah benda yang yang memiliki berat dan ukuran sebesar tetesan hujan akan terus melaju dan jatuh menimpa tanah dengan kecepatan 558km/jam. Tentunya, objek apapun yang jatuh dengan kecepatan tersebut akan mengakibatkan kerusakan. Dan apabila hujan turun dengan cara demikian, maka seluruh lahan tanaman akan hancur, pemukiman, perumahan, kendaraan akan mengalami kerusakan, dan orang-orang pun tidak dapat pergi keluar tanpa mengenakan alat perlindungan ekstra. Terlebih lagi, perhitungan ini dibuat untuk ketinggian 12.000 meter, faktanya terdapat awan yang memiliki ketinggian hanya sekitar 10.000 meter. Sebuah tetesan hujan yang jatuh pada ketinggian ini tentu saja akan jatuh pada kecepatan yang mampu merusak apa saja.

Namun tidak demikian terjadinya, dari ketinggian berapapun hujan itu turun, kecepatan rata-ratanya hanya sekitar 8-10 km/jam ketika mencapai tanah. Hal ini disebabkan karena bentuk tetesan hujan yang sangat istimewa. Keistimewaan bentuk tetesan hujan ini meningkatkan efek gesekan atmosfer dan mempertahankan kelajuan tetesan-tetesan hujan krtika mencapai “batas” kecepatan tertentu. (Saat ini, parasut dirancang dengan menggunakan teknik ini).

Tak sebatas itu saja “pengukuran” tentang hujan. Contoh lain misalnya, pada lapisan atmosferis tempat terjadinya hujan, temperatur bisa saja turun hingga 400oC di bawah nol. Meskipun demikian, tetesan-tetesan hujan tidak berubah menjadi partikel es. (Hal ini tentunya merupakan ancaman mematikan bagi semua makhluk hidup di muka bumi.) Alasan tidak membekunya tetesan-tetesan hujan tersebut adalah karena air yang terkandung dalam atmosfer merupakan air murni. Sebagaimana kita ketahui, bahwa air murni hampir tidak membeku pada temperatur yang sangat rendah sekalipun.

Pembentukan Hujan

Bagaimana hujan terbentuk tetap menjadi misteri bagi manusia dalam kurun waktu yang lama. Hanya setelah ditemukannya radar cuaca, barulah dapat dipahami tahapan-tahapan pembentukan hujan. Pembentukan hujan terjadi dalam tiga tahap. Pertama, “bahan mentah” hujan naik ke udara. Kemudian terkumpul menjadi awan. Akhirnya, tetesan-tetesan hujan pun muncul.

Tahapan-tahapan ini secara terperinci telah tertulis dalam Al-Qur’an berabad-abad tahun lalu sebelum informasi mengenai pembentukan hujan disampaikan:

اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ ۖ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ
“Allah, dialah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang di kehendakinya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal: lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambanya yang di kehendakinya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.” (QS. Ar-Rum : 48)

Sekarang, mari kita lihat pada tiga tahapan yang disebutkan dalam Al-Qur’an:

Tahap Pertama : “ Allah, dialah yang mengirimkan angin…..”

Gelembung-gelembung udara yang tidak terhitung jumlahnya dibentuk oleh buih-buih di lautan yang secara terus-menerus pecah dan mengakibatkan partikel-partikel air tersembur ke udara menuju ke langit. Partikel-partikel ini –yang kaya akan garam– kemudian terbawa angin dan bergeser ke atas menuju atmosfer. Partikel-partikel ini (disebut aerosol) membentuk awan dengan mengumpulkan uap air (yang naik dari lautan sebagai tetesan-tetesan oleh sebuah proses yang dikenal dengan “JebakanAir”) di sekelilingnya.

Tahap Kedua : “…..lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang di kehendakinya, dan menjadi bergumpal-gumpal…..”

Awan terbentuk dari uap air yang mengembun di sekitar kristal-kristal garam atau partikel-partikel debu di udara. Karena tetesan-tetesan air di sini sangat kecil (dengan diameter antara 0,01-0,02 mm), awan mengapung di udara dan menyebar di angkasa. Sehingga langit tertutup oleh awan.

Tahap Ketiga : “….lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun.”

Partikel-partikel air yang mengelilingi kristal-kristal garam dan partikel-partikel debu mengental dan membentuk tetesan-tetesan hujan. Sehingga, tetesan-tetesan tersebut, yang menjadi lebih berat dari udara, meninggalkan awan dan mulai jatuh ke tanah sebagai hujan.

Setiap tahap dalam pembentukan hujan disampaikan dalam Al-Qur’an. Terlebih lagi, tahapan-tahapan tersebut dijelaskan dalam runtutan yang benar. Seperti halnya fenomena alam lain di dunia, lagi-lagi Al-Qur’an lah yang memberikan informasi yang paling tepat tentang fenomena ini, selain itu, Al-Qur’an telah memberitahukan fakta-fakta ini kepada manusia berabad-abad sebelum sains sanggup mengungkapnya.

Sumber: HarunYahya.com

surat-ikhlas

Tafsir Surat Al-Ikhlash

Surat ini Makkiyah, terdiri dari 4 ayat. Merupakan surat tauhid dan pensucian nama Allah Ta’ala. Ia merupakan prinsip pertama dan pilar tama Islam. Oleh karena itu pahala membaca surat ini disejajarkan dengan sepertiga Al-Qur’an. Karena ada tiga prinsip umum: tauhid, penerapan hudud dan perbuatan hamba, serta disebutkan dahsyatnya hari Kiamat. Ini tidaklah mengherankan bagi orang yang diberi karunia untuk membacanya dengan tadabbur dan pemahaman, hingga pahalanya disamakan dengan orang membaca sepertiga Al-Qur’an.

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ ﴿٤﴾

1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa.

2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,

4. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”

Makna Mufradat:

Arti Mufradat
1. Satu Dzat-Nya, sifat-Nya, dan perbuatan-Nya. أحد
2. Dapat mencukupi semua kebutuhan sendirian. الصمد
3. Sepadan, sama, dan tandingan. كفؤاً

Syarah:

Inilah prinsip pertama dan tugas utama yang diemban Nabi saw. Beliau pun menyingsingkan lengan baju dan mulai mengajak manusia kepada tauhid dan beribadah kepada Allah yang Esa. Oleh karena itu di dalam surat ini Allah memerintahkan beliau agar mengatakan, “Katakan, ‘Dialah Allah yang Esa.” Katakan kepada mereka, ya Muhammad, “Berita ini benar karena didukung oleh kejujuran dan bukti yang jelas. Dialah Allah yang Esa. Dzat Allah satu dan tiada berbilang. Sifat-Nya satu dan selain-Nya tidak memiliki sifat yang sama dengan sifat-Nya. Satu perbuatan dan selain-Nya tidak memiliki perbuatan seperti perbuatan-Nya.

Barangkali pengertian kata ganti ‘dia’ pada awal ayat adalah penegasan di awal tentang beratnya ungkapan berikutnya dan penjelasan tentang suatu bahaya yang membuatmu harus mencari dan menoleh kepadanya. Sebab kata ganti tersebut memaksamu untuk memperhatikan ungkapan berikutnya. Jika kemudian ada tafsir dan penjelasannya jiwa pun merasa tenang. Barangkali Anda bertanya, tidakkah sebaiknya dikatakan, “Allah yang Esa” sebagai pengganti dari kata, “Allah itu Esa.” Jawabannya, bahwa ungkapan seperti ini adalah untuk mengukuhkan bahwa Allah itu Esa dan tiada berbilang Dzat-Nya.

Kalau dikatakan, “Allah yang Maha Esa,” tentu implikasinya mereka akan meyakini keesaan-Nya namun meragukan eksistensi keesaan itu. Padahal maksudnya adalah meniadakan pembilangan sebagaimana yang mereka yakini. Oleh karena itu Allah berfirman,

هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾

“Dia-lah Allah, Dia itu Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.”

Artinya tiada sesuatu pun di atas-Nya dan Dia tidak butuh kepada sesuatu pun. Bahkan selain-Nya butuh kepada-Nya. Semua makhluk perlu berlindung kepada-Nya di saat sulit dan krisis mendera. Maha Agung Allah dan penuh berkah semua nikmat-Nya.

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾

“Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan”

Ini merupakan pensucian Allah dari mempunyai anak laki-laki, anak perempuan, ayah, atau ibu. Allah tidak mempunyai anak adalah bantahan terhadap orang-orang musyrik yang mengatakan bahwa malaikat itu anak-anak perempuan Allah, terhadap orang-orang Nasrani dan Yahudi yang mengatakan ‘Uzair dan Isa anak Allah. Dia juga bukan anak sebagaimana orang-orang Nasrani mengatakan Al-Masih itu anak Allah lalu mereka menyembahnya sebagaimana menyembah ayahnya. Ketidakmungkinan Allah mempunyai anak karena seorang anak biasanya bagian yang terpisah dari ayahnya. Tentu ini menuntut adanya pembilangan dan munculnya sesuatu yang baru serta serupa dengan makhluk. Allah tidak membutuhkan anak karena Dialah yang menciptakan alam semesta, menciptakan langit dan bumi serta mewarisinya. Sedangkan ketidakmungkinan Allah sebagai anak, karena sebuah aksioma bahwa anak membutuhkan ayah dan ibu, membutuhkan susu dan yang menyusuinya. Maha Tinggi Allah dari semua itu setinggi-tingginya.

وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ ﴿٤﴾

“Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”

Ya. Selama satu Dzat-Nya dan tidak berbilang, bukan ayah seseorang dan bukan anaknya, maka Dia tidak menyerupai makhluk-Nya. Tiada yang menyerupai-Nya atau sekutu-Nya. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan.

Meskipun ringkas, surat ini membantah orang-orang musyrik Arab, Nasrani, dan Yahudi. Menggagalkan pemahaman Manaisme (Al-Manawiyah) yang mempercayai tuhan cahaya dan kegelapan, juga terhadap Nasrani yang berpaham trinitas, terhadap agama Shabi’ah yang menyembah bintang-bintang dan galaksi, terhadap orang-orang musyrik Arab yang mengira selain-Nya dapat diandalkan di saat membutuhkan, atau bahwa Allah mempunyai sekutu. Maha Tinggi Allah dari semua itu.

Surat ini dinamakan Al-Ikhlas, karena ia mengukuhkan keesaan Allah, tiada sekutu bagi-Nya, Dia sendiri yang dituju untuk memenuhi semua kebutuhan, yang tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, tiada yang menyerupai dan tandingan-Nya. Konsekuensi dari semua itu adalah ikhlas beribadah kepada Allah dan ikhlas menghadap kepada-Nya saja. Geo.
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2010/11/01/9768/tafsir-surat-al-ikhlash

alfatihah

TAFSIR AL MISBAH TENTANG AL-FATIHAH

Surah Al Fatihah

Identitas kitab tafsir Al Misbah :
1. Judul : Tafsir Al Misbah
2. Pengarang : M. Quraish Shihab
3. Penerbit : Lentera Hati, Jakarta 2002
4. Tebal buku : 624 hal
5. Volume : 1

AYAT PERTAMA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.”

Ayat pertama Surah Al Fatihah adalah lafadz Basmalah seperti yang tertulis di atas,ini menurut pendapat Imam Syafi’i yang sudah masyhur di kalangan para Ulama’. Walaupun ada sebagian ulama’ seperti Imam Malik yang berpendapat bahwa Basmalah bukan termasuk ayat pertama Surah Al Fatihah, sehingga tidak wajib dibaca ketika shalat saat membaca Surah Al Fatihah.
Basmalah merupakan pesan pertama Allah kepada manusia, pesan agar manusia memulai setiap aktivitasnya dengan nama Allah. Hal ini ditunjukkan oleh penggunaan huruf “ب” pada lafadz “بسم”. Lafadz Ar-Rahman ar-Rahim adalah dua sifat yang berakar dari kata yang sama. Agaknya kedua sifat ini dipilih karena sifat inilah yang paling dominan. Para ulama’ memahami kata Ar-Rahman sebagai sifat Allah yang mencurahkan rahmat yang bersifat sementara di dunia ini, sedang ar-Rahim adalah rahmat-Nya yang bersifat kekal. Rahmat-Nya di dunia yang sementara ini meliputi seluruh makhluk, tanpa kecuali dan tanpa membedakan antara mukmin dan kafir. Sedangkan rahmat yang kekal adalah rahmat-Nya di akhirat, tempat kehidupan yang kekal, yang hanya akan dinikmati oleh makhluk-makhluk yang mengabdi kepada-Nya.

AYAT 2
الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالمَِيْنَ
“Segala puji hanya bagi Allah pemelihara seluruh alam.”

Kata Hamd atau pujian adalah ucapan yang ditujukan kepada yang dipuji atas sikap atau perbuatannya yang baik walaupun ia tidak memberi sesuatu kepada yang memuji. Inilah bedanya antara hamd dengan syukur. Ada tiga unsure dalam perbuatan yang harus dipenuhi oleh yang dipuji sehingga dia wajar mendapat pujian, yaitu : indah(baik), dilakukan secara sadar, dan tidak terpaksa atau dipaksa. Kata al-hamdu, dalam surah al-Fatihah ini ditunjukkan kepada Allah. Ini berarti bahwa Allah dalam segala perbuatan-Nya telah memenuhi ketiga unsure tersebut di atas.
Kalimat Robbil ‘aalamin, merupakan keterangan lebih lanjut tentang layaknya segala puji hanya bagi Allah. Betapa tidak, Dia adalah Robb dari seluruh alam. Al-hamdu lillahi robbil’alamin dalam surah al-Fatihah ini mempunyai dua sisi makna. Pertama berupa pujian kepada Allah dalam bentuk ucapan, dan kedua berupa syukur kepada Allah dalam bentuk perbuatan.

AYAT 3
الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
“Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Pemeliharaan tidak dapat terlaksana dengan baik dan sempurna kecuali bila disertai dengan rahmat dan kasih sayang. Oleh karena itu, ayat ini sebagai penegasan kedua setelah Allah sebagai Pemelihara seluruh alam. Pemeliharaan-Nya itu bukan atas dasar kesewenangan-wenangan semata, tetapi diliputi oleh rahmat dan kasih sayang.

AYAT 4
مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ
“Pemilik hari pembalasan.”

“Pemelihara dan Pendidik yang Rahman dan Rahiim boleh jadi tidak memiliki (sesuatu). Sedang sifat ketuhanan tidak dapat dilepaskan dari kepemilikan dan kakuasaan. Karena itu kapamilikan dan kakuasaan yang dimaksud perlu ditegaskan. Inilah yang dikandung oleh ayat keempat ini,maaliki yaumiddin.” Demikian al-Biqa’i menghubungkan ayat ini dan ayat sebelumnya.
Ayat di atas menyatakan bahwa Allah adalah Pemilik atau Raja hari kemudian. Paling tidak ada dua makna yang dikandung oleh penegasan ini, yaitu:
Pertama, Allah yang menentukan dan Dia pula satu-satunya yang mengetahui kapan tibanya hari tersebut.
Kedua, Allah mengetahui segala sesuatu yang terjadi dan apapun yang terdapat ketika itu. Kekuasaan-Nya sedemkian besar sehingga jangankan bertindak atau bersikap menentang-Nya, berbicara pun harus dengan seizing-Nya.

AYAT 5
اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ
“Hanya kepada-Mu Kami mengabdi dan hanya kepada-Mu Kami meminta pertolongan.”

Kalimat “Hanya kepada-Mu Kami mengabdi dan hanya kepada-Mu Kami meminta pertolongan”, adalah bukti bahwa kalimat-kalimat tersebut adalah pengajaran. Allah mengajarkan ini kepada kita agar kita ucapkan, karena mustahil Allah yang Maha Kuasa itu berucap demikian, bila bukan untuk pengajaran.
Banyak sekali pesan yang dikandung kata iyyaka dan na’budu. Secara tidak langsung penggalan ayat ini mengecam mereka yang mempertuhan atau menyembah selain Allah, baik masyarakat Arab ketika itu maupun selainnya. Penggalan ayat mengecam mereka semua dan mengumandangkan bahwa Allah lah yang patut disembah dan tidak ada sesembahan yang lain.
Selain itu dalam meminta pertolongan kita tidak dapat mengabaikan Allah dalam peranan-Nya. Permohonan bantuan kepada Allah agar Dia mempermudah apa yang tidak mampu diraih oleh yang bermohon dengan upaya sendiri. Para ulama mendefinisikannya sebagai “Penciptaan sesuatu yang dengannya menjadi sempurna atau mudah pencapaian apa yang diharapkan.” Dari penjelasan di atas terlihat bahwa permohonan bantuan itu, bukan berarti berlepas tangan sama sekali. Tetapi Kita masih dituntut untuk berperan, sedikit atau banyak, sesuai dengan kondisi yang dihadapi.

AYAT 6
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ
“Bimbing (antar)lah Kami (memasuki) jalan lebar dan luas.”

Setelah mempersembahkan puja puji kepada Allah dan mengakui kekuasaan dan kepemilikan-Nya, ayat selanjutnya merupakan pernyataan tentang ketulusan-Nya beribadah serta kebutuhannya kepada pertolongan Allah. Maka dengan ayat ini sang hamba mengajukan permohonan kepada Allah, yakni bimbing dan antarkanlah Kami memasuki jalan yang lebar dan luas.
Shiroth di sini bagaikan jalan tol yang lurus dan tanpa hambatan, semua yang telah memasukinya tudak dapat keluar kecuali setelah tiba di tempat tujuan. Shiroth adalah jalan yang lurus, semua orang dapat melaluinya tanpa berdesak-desakan. Sehingga shiroth menjadi jalan utama untuk sampai kepada tujuan utama umat manusia, yaitu keridloan Allah dalam setiap tingkah laku.

AYAT 7
صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ
“(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.”

Kata ni’mah/nikmat yang dimaksud di sini adalah nikmat yang paling bernilai yang tanpa nikmat itu, nikmat-nikmat yang lain tidak akan mempunyai nilai yang berarti, bahkan dapat menjadi niqmah atau bencana jika tidak bisa mensyukuri dan menggunakannya dengan benar. Nikmat tersebut adalah nikmat memperoleh hidayah Allah serta ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka yang taat melaksanakan pesan-pesan Ilahi yang merupakan nikmat terbesar itu, mereka itulah yang masuk dan bisa melalui shiroth al-mustaqim.
Mengenai yang disebut dengan al-maghdhub ‘alaihim,ayat ini tidak menjelaskan siapakah orang-orang tersebut, tetapi rasulullah telah memberi contoh konkret,yaitu orang-orang Yahudi yang mengerti akan kebenaran tetapi enggan melaksanakannya.
Demikian ayat terakhir surah al-Fatihah ini mengajarkan manusia agar bermohon kepada Allah, kiranya ia diberi petunjuk oleh-Nya sehingga mampu menelusuri Shiroth al-mustaqim, jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang sukses di dunia maupun di akhirat. Ayat ini juga mengajarkan kaum muslimin agar selalu optimis menghadapi hidup ini, bukankah nikmat Allah selalu tercurah kepada hamba-hamba-Nya?

KESIMPULAN

Surah al-Fatihah (pembukaan) yang diturunkan di Makkah yang terdiri atas 7 ayat ini adalah surah yang pertama-tama diturunkan dengan sempurna satu surah. Disebut dengan al-Fatihah karena merupakan pembuka dalam Al-Qur’an. Dinamakan juga sebagai Ummul Qur’an karena di dalamnya mencakup kandungan tema-tema pokok semua ayat Al-Qur’an. Yang di antaranya mencakup aspek keimanan, hukum, dan kisah.
Alasan mengapa al-Fatihah diletakkan di awal Al-Qur’an seperti yang diuraikan oleh Syekh M. Abduh adalah kandungan Surah al-Fatihah yang bersifat global yang dirinci oleh ayat-ayat lain sehingga ia bagaikan mukaddimah atau pengantar bagi kandungan surah-surah Al-Qur’an.
Tujuan utama dari surah al-Fatihah adalah menetapkan kewajaran Allah untuk dihadapkan kepada-Nya segala pujian dan sifat-sifat kesempurnaan, dan meyakini kepemilikan-Nya atas dunia dan akhirat serta kewajaran-Nya untuk disembah dan dimohonkan dari-Nya pertolongan, dan nikmat menempuh jalan yang lurus sambil memohon terhindar dari jalan orang yang binasa. Inilah tujuan utama dan tema pokok surah al-Fatihah, dan yang lainnya adalah cara-cara untuk mencapainya. Geo.

tayangan-serial-omar-_120724124709-613

Khalifah Umar Abdul Aziz Hidup Sederhana

Suatu hari Khalifah Umar Abdul Aziz berpidato di hadapan kaum muslimin. Sebagaimana biasa, pidato beliau sangant menarik dan memikat para pendengar. Akan tetapi pada kali ini, selain daripada kandungan pidatonya, gerak-gerik Khalifah pun turut menjadi perhatian. Khalifah sering memegang dan mengibas-ngibaskan bajunya ketika berpidato, sesekali di sebelah kanan dan sesekali di sebelah kiri. Dengan demikian orang ramai menyadari bahawa gerakan tangan Khalifah tidak ada hubungannya dengan kandungan pidato.

Setelah Khalifah turun daripada tempat berpidato, mereka saling bertanya dan akhirnya diketahui rahasianya. Dikatakan bahwa baju yang dipakai Khalifah baru saja dibasuh dan belum kering. Karena tidak ada baju lagi, maka baju itu dipakainya juga. karena itu beliau selalu mengerak-gerakkan bajunya ketika berpidato agar cepat kering.

Ketika Khalifah Umar sakit, pakaian yang dipakainya telah kotor. Muslimah Abdul Aziz kakak Fatimah Abul Malik datang menemui adiknya dan melihat Khalifah yang sedang sakit. “Fatimah, basuhlah pakaian Khalifah itu. Sebentar lagi orang ramai akan masuk menemuinya”, tegur Muslimah. “Demi Allah, beliau tidak punya pakaian lagi kecuali yang dipakai itu”, jawab Fatimah.

Seorang perempuan Mesir telah datang ke Damsyik karena ingin bertemu dengan Amirul Mukminin Khalifah Umar Abdul Aziz. Dia bertanya-tanya di mana istana Khalifah dan orang ramai menunjukkannya. Sampai saja di rumah yang dimaksudkan, perempuan Mesir itu bertemu dengan seorang perempuan yang memakai pakaian yang sudah lusuh dan buruk dan seorang lelaki sedang bergelimang dengan tanah kerana memperbaiki rumahnya.

Perempuan itu bertanya lagi dan ketika mengetahui bahawa perempuan yang ditanya adalah Fatimah isteri Khalifah, dia terkejut luar biasa. Kerena mana ada seorang permaisuri raja yang berkuasa memakai baju buruk seperti itu. Dia merasa takut dan kagum. Akan tetapi Fatimah pandai melayani, sehingga tamu itu merasa suka dan tenang hatinya.

“Mengapa permaisuri tidak menutup diri daripada lelaki tukang keruk pasir itu?” tanya perempuan Mesir itu. “Tukang keruk pasir itulah Amirul Mukminin” jawab Fatimah sambil tersenyum. Sekali lagi tamu itu terkejut dan beristighfar. Khalifah Umar tidak mempunyai pelayan kecuali seorang anak-anak lelaki. Dialah satu-satunya khadam dalam istana Umar. Fatimah memberinya makan kacang setiap hari sehingga si pelayan menjadi bosan. “Kacang..kacang…setiap hari kacang,” kata si pelayan merungut. “Inilah makanan tuanmu Amirul Mukminin, wahai anakanda,” kata Fatimah.

Suatu ketika diceritakan bahawa seorang lelaki dan isterinya di Syam telah merelakan anaknya ikut berperang di jalan Allah dan menemu syahid di medang perang. Beberapa masa kemudian dia melihat seorang lelaki dengan menunggang kuda menuju kearahnya. Setelah diperhatikan, ternyata pemuda itu seperti anaknya yang telah meninggal dunia. “Hai, coba kamu lihat pemuda yang berkuda itu, seperti anak kita, kan?” kata lelaki itu kepada isterinya. “Semoga Allah merahmati engkau. Janganlah tertipu oleh syaitan. Anak kita sudah syahid, bagaimana bisa menunggang kuda seperti itu?” kata isterinya.

Sementara suami isteri itu memperhatikan dengan betul, tiba-tiba pemuda menunggang kuda itu telah berada di hadapannya. “Assalamualaikum.” kata penunggang kuda. “Waalikumsalam,” jawab kedua-dua suami isteri itu. Ternyata dia memang anaknya, maka terkejutlah kedua ibu bapa itu sambil segera memeluknya. Mereka gembira luar biasa bercampur heran.

“Ayah, ibu tetap saja di situ,” kata pemuda itu menegur. “Saya bukan seperti ayah dan ibu lagi, demikian juga ayah dan ibu bukan seperti saya. Saya datang pun bukan untuk pulang kepada ayah dan ibu.” Kedua ibu bapa faham akan maksud anaknya, mereka pun diam. Kemudian anak itu menerangkan bahawa kedatangannya bukan sengaja.

“Sebenarnya aku datang bukan untuk mengunjungi ayah dan ibu, tetapi hanya mengambil kesempatan saja dalam keperluan lain. Yaitu Amirul Mukminin Khalifah Umar Abdul Aziz telah wafat. Golongan syuhada minta izin kepada Allah untuk hadir dalam pengurusan janazahnya. Allah memperkenankan permintaan mereka dan saya termasuk di antaranya.”

Kemudian dia bertanya keadaan kedua ibu bapanya, menghormatinya dan menjanjikan kebaikan daripada Allah. Setelah itu dia mendoakan ibu bapanya memberi salam lalu pergi. Dengan itu penduduk kampung mengetahui bahawa khalifah mereka, Umar Abdul Aziz telah wafat. Geo.

syukur1

Syukur, Untuk Kebaikan Dunia dan Akhirat

Memang, tak semua orang merasakan kenikmatan hidup, kesenangan, kebahagiaan yang sama. Setiap individu punya hidup masing-masing, punya ‘ukuran’ masing-masing, tergantung apa dan bagaimana dia menjalani hidupnya. Sekarang, tak perlu kita membanding-bandingkan kehidupan kita, mengeluh, galau, apalagi merasa kalau Allah tidak adil kepada kita, Na’udzubillah.

Semua yang kita jalani, alami, nikmati dan rasakan adalah hasil dari perbuatan yang kita lakukan sehari-hari. Kita adalah refleksi dari apa yang kita lakukan. Tak mudah memang menyadari kekurangan diri kita sendiri, hanya orang lain yang tahu segala kekurangan kita. Sekarang, tinggal kita yang harus mau menerima atau tidak, terkadang kita merasa angkuh dan tak mau mengalah, tak mau menerima dan mengakui kekurangan kita sendiri, merasa dirinya paling benar, paling tua, yang paling harus didengar. Tapi, ada pula yang bisa menerima kritikan dan masukan orang lain, bahkan bermuhasabah diri, berkontemplasi, mencari kekurangan, dan memohon doa agar lebih baik lagi, semoga kita bisa menjadi orang yang demikian, Subhanallah.

Kesulitan yang kita rasakan, masalah yang kita hadapi, tantangan yang ada dalam hidup kita, itu adalah ‘pembelajaran’ dan ‘jalan’ dari Allah untuk menjadikan kita lebih kuat, lebih baik, lebih matang, dan menjadi manusia seutuhnya, Insan Kamil, manusia yang ‘sempurna’. Sempurna disini bukan berarti bisa melakukan segala sesuatu, bisa memiliki segala sesuatu. Tapi insan kamil adalah manusia yang mampu menyeimbangkan bekal dan ilmu bagi kehidupannya di dunia, maupun di akhirat, seperti do’a yang selalu kita ingat dan panjatkan di akhir penutup do’a:

ربنا آتنا في الدنيا حسنة و في الآخرة حسنة و قنا عذاب النار

Robbana aatina fiiddunya hasanah, wa fiil-aakhirati hasanah waqinaa ‘adzabannar,”

Tugas kita sebagai seorang hamba adalah memohon yang terbaik dari Allah, tak lelah dan bosan terus berdo’a dan menyandarkan segala urusan kita kepada Allah SWT, baik urusan di dunia, maupun di akhirat. Karena sesungguhnya, Allah tidak pernah menolak do’a seorang hamba. Allah akan selalu menerima dan mengabulkan do’a hamba-Nya. ((أدعوني أستجب ل)) “Ud’uunii astajib lakum,” Berdo’alah kepadaku, akan aku kabulkan untukmu. Wallahu Akbar.

Sesungguhnya, semua keluh kesah kita ada jalan keluarnya, semua masalah ada solusinya: Allah SWT. Karena terkadang, kita sering lupa dengan Allah saat kita senang, dan justru ‘protes’ kepada Allah saat kita susah. Semoga kita selalu menjadi orang yang selalu mengingat Allah dalam segala keadaan, baik senang maupun susah. Karena Allah akan melipatgandakan nikmat-Nya untuk mereka yang bersyukur dengan segala yang Allah berikan kepadanya, dengan berbagai macam cara, dan rupa. Wallahu a’lam bishawab.

Geo.

istri-shalihah

Sifat-Sifat Istri Shalihah

Dari Abu Said Al Khudri dia berkata: Pernah suatu kali para wanita berkata kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Kaum laki-laki telah mengalahkan kami, maka jadikanlah satu hari untuk kami, Nabi pun menjanjikan satu hari dapat bertemu dengan mereka, kemudian Nabi memberi nasehat dan perintah kepada mereka. Salah satu ucapan beliau kepada mereka adalah: “Tidaklah seorang wanita di antara kalian yang ditinggal mati tiga anaknya, kecuali mereka sebagai penghalang baginya dari api nereka. Seorang wanita bertanya: “Bagaimana kalau hanya dua?” Beliau menjawab: “Juga dua.” (HR. Al-Bukhari No 1010)

Seorang isteri yang aqidahnya benar akan tercermin dalam tingkah lakunya misalnya:

  • Dia hanya bersahabat dengan wanita yang baik.
  • Selalu bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Rabbnya.
  • Bisa menjadi contoh bagi wanita lainnya.

Akhlak Isteri Idaman.

  • Berusaha berpegang teguh kepada akhlak-akhlak Islami yaitu: Ceria, pemalu, sabar, lembut tutur katanya dan selalu jujur.
  •  Tidak banyak bicara, tidak suka merusak wanita lain, tidak suka ghibah (menggunjing) dan namimah (adu domba).
  •  Selalu berusaha untuk menjaga hubungan baik dengan isteri suaminya yang lain (madunya) jika suaminya mempunyai isteri lebih dari satu.
  •  Tidak menceritakan rahasia rumah tangga, diantaranya adalah hubungan suami isteri ataupun percekcokan dalam rumah tangga. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya di antara orang yang terburuk kedudukan-nya disisi Allah pada hari kiamat yaitu laki-laki yang mencumbui isterinya dan isteri mencumbui suaminya kemudian ia sebar luaskan rahasianya.” (HR. Muslim 4/157)

Isteri idaman di rumah suaminya

  •  Membantu suaminya dalam kebaikan. Merupakan kebaikan bagi seorang isteri bila mampu mendorong suaminya untuk berbuat baik, misalnya mendo-rong suaminya agar selalu ihsan dan berbakti kepada kedua orang tuanya, sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang artinya: “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah.” (Al Ahqaf 15)
  • Membantunya dalam menjalin hubungan baik dengan saudara-saudaranya.
  • Membantunya dalam ketaatan.
  • Berdedikasi (semangat hidup) yang tinggi.
  •  Ekonomis dan pandai mengatur rumah tangga.
  • Bagus didalam mendidik anak.

Penampilan:

  • Di dalam rumah, seorang istri yang shalehah harus selalu memperhatikan penampilannya di rumah suaminya lebih-lebih jika suaminya berada di sisinya maka Islam sangat menganjurkan untuk berhias dengan hal-hal yang mubah sehingga menyenangkan hati suaminya.
  • Jika keluar rumah, seorang istri yang sholehah harus memperhati-kan hal-hal berikut: Harus minta izin suami, Harus menutup aurat dan tidak menampakkan perhiasannya, Tidak memakai wangi-wangian, Tidak banyak keluar kecuali untuk tujuan syar’i atau keperluan yang sangat mendesak. Abrowi
rahsia-sedekah

Bersedekah dan Hikmahnya

Niat sedekah yang tetap diterima

Abu Hurairah r.a menerangkan bahawasanya Rasulullah SAW bersabda maksudnya: “ Seorang lelaki berkata : “Demi Allah saya akan memberi sedekah. Maka dia keluar membawa sedekahnya lalu diletakkannya di dalam tangan pencuri. Maka pada paginya, orang ramai pun memperkatakan hal tersebut. Mereka berkata : “ Telah diberi sedekah kepada pencuri. Si pemberi itu berkata : “Wahai Tuhan ku, hanya untuk Engkaulah segala puji-pujian. Demi Allah, saya akan sedekahkan satu sedekah lagi. Maka dia keluar membawa sedekahnya lalu diletakkan di tangan wanita penzina. Pada pagi hari itu orang ramai pun memperkatakan hal tersebut. Mereka berkata : “Telah diberikan sedekah kepada wanita penzina. Orang tersebut berkata : “Wahai Tuhan ku, hanya untuk Engkaulah segala puji-pujian. Demi Allah saya akan memberikan satu sedekah lagi. Maka dia keluar membawa sedekahnya lalu diletakkan di tangan orang kaya. Pada pagi hari itu orang ramai memperkatakan hal tersebut. Mereka berkata : “Telah diberikan sedekah kepada orang kaya. Orang itu berkata : “Wahai Tuhan ku, hanya untuk Engkaulah segala puji-pujian terhadap si pencuri, si penzina dan terhadap si kaya. Kemudian datanglah seseorang kepadanya dalam tidurnya lalu berkata kepadanya : “Sedekah mu kepada si pencuri, mudah-mudahan ia akan memelihara dirinya daripada mencuri, manakala kepada wanita penzina mudah-mudahan ia akan memelihara dirinya daripada berzina dan orang kaya mudah-mudahan ia akan mengambil ibarat lalu menafkahkan sebahagian harta yang telah Allah berikan kepadanya.” (al-Bukhari dan Muslim)

Sedekah mesti halal sumbernya

Dari Ibnu ‘Umar r.a katanya:”Aku mendengar Rasulullah s.a.w bersabda:”Tidak diterima solat seseorang tanpa suci dan tidak diterima sedekah yang berasal daripada kejahatan (seperti mencuri, menipu, menggelapkan wang, merompak, judi dan sebagainya)” (Muslim)

Jangan suka perhitungan dalam sedekah

Dari ‘Asma binti Abu Bakar as-Siddiq r.a katanya, dia datang kepada Rasulullah s.a.w, lalu dia bertanya:”Ya nabi Allah! Aku tidak mempunyai apa-apa untuk disedekahkan selain yang diberikan Zuber (suamiku) kepaku (untuk belanja rumahtangga). Berdosakah aku apabila wang belanja itu kusedekahkan ala kadarnya ?”Jawab nabi s.a.w :”Sedekahkanlah ala kadarnya sesuai dengan kemampuanmu dan jangan menghitung-hitung kerana Allah akan menghitung-hitung pula pemberian-Nya kepadamu dan akan kedekut kepadamu.” (Muslim)

Kejar akhirat bukan dunia

Rasulullah SAW ini: “Sesiapa yang menjadikan akhirat sebagai cita-citanya, maka Allah akan mencukupkan semua urusan dunianya; dan sesiapa yang keinginannya hanyalah kepada dunia (sebagai cita-citanya), maka Allah akan tidak akan memperdulikannya di lembah mana dia akan binasa (menjadikannya miskin dan dunia datang kepadanya; hanya sebatas yang telah ditakdirkan ke atas dirinya).” (Mafhum hadis riwayat Ibn Majah). Arif

sedekah

Kisah Sedekah Seorang Lelaki Kepada Pencuri, Penzina dan Orang Kaya

Dikutip dari www.ibrah-hafism.com

Kisah di mana seorang lelaki yang tersalah bersedekah kepada pencuri, penzina dan orang kaya yang disangkannya mereka itu ialah orang miskin. Abu Hurairah r.a menerangkan bahawasanya Rasulullah sollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda maksudnya:

“Seorang lelaki berkata: Demi Allah saya akan memberi sedekah. Maka dia keluar membawa sedekahnya lalu diletakkannya di dalam tangan pencuri. Maka pada paginya, orang ramai pun memperkatakan hal tersebut. Mereka berkata: Telah diberi sedekah kepada pencuri. Si pemberi itu berkata: Wahai Tuhan ku, hanya untuk Engkaulah segala puji-pujian. Demi Allah, saya akan sedekahkan satu sedekah lagi. Maka dia keluar membawa sedekahnya lalu diletakkan di tangan wanita penzina. Pada pagi hari itu orang ramai pun memperkatakan hal tersebut. Mereka berkata: Telah diberikan sedekah kepada wanita penzina. Orang tersebut berkata: Wahai Tuhan ku, hanya untuk Engkaulah segala puji-pujian. Demi Allah saya akan memberikan satu sedekah lagi. Maka dia keluar membawa sedekahnya lalu diletakkan di tangan orang kaya. Pada pagi hari itu orang ramai memperkatakan hal tersebut. Mereka berkata: Telah diberikan sedekah kepada orang kaya. Orang itu berkata: Wahai Tuhan ku, hanya untuk Engkaulah segala puji-pujian terhadap si pencuri, si penzina dan terhadap si kaya.

Kemudian datanglah seseorang kepadanya dalam tidurnya lalu berkata kepadanya: Sedekah mu kepada si pencuri, mudah-mudahan ia akan memelihara dirinya daripada mencuri, manakala kepada wanita penzina mudah-mudahan ia akan memelihara dirinya daripada berzina dan orang kaya mudah-mudahan ia akan mengambil ibarat lalu menafkahkan sebahagian harta yang telah Allah berikan kepadanya.” (Hadis Sahih riwayat Bukhari dan Muslim)

Ringkasan kisah

Dalam hadith ini Rasulullah sollallahu ‘alaihi wa sallam telah menceritakan kepada kita bagaimana ada seorang lelaki yang soleh di mana dia ingin memberi sedekah kepada mereka yang memerlukannya. Memanglah bagi mereka yang telah subur dalam diri mereka kemanisan iman dan juga sentiasa beramal soleh sentiasa memikirkan bagaimana mahu menambahkan amal kebajikan bagi mengejar keredhaan Allah. Lelaki ini merupakan salah seorang daripadanya di mana telah timbul dalam hatinya untuk bersedekah.Lelaki ini mahu bersedekah dalam keadaan sembunyi di mana tidak siapa pun akan mengetahuinya melainkan Allah. Ini adalah kerana hanya sedekah secara sembunyi sahaja mampu memadamkan api kemurkaan Allah dan sedekah secara sembunyi juga merupakan selebih-lebih sedekah berbanding sedekah secara terang-terangan.

Pada suatu malam lelaki ini telah keluar bertujuan untuk memberi sedekah dan dia telah memberi sedekahnya itu kepada seseorang yang mana pada anggapannya dia merupakan seorang yang miskin sedangkan pada hakikatnya dia merupakan seorang pencuri. Pada keesokan harinya pencuri itu menceritakan kepada orang ramai bahawa ada seorang lelaki yang tidak dikenalinya telah memberi sedekah kepadanya. Mendengar cerita itu menyebabkan keadaan menjadi gempar di mana masing-masing menceritakan bagaimana ada seorang lelaki telah memberi sedekah kepada seorang pencuri. Akhirnya berita mengenai sedekahnya kepada seorang pencuri telah sampai ke telinganya sedangkan ketika dia memberikan sedekahnya itu dia menganggap bahawa orang itu miskin. Mendengar berita itu menyebabkan lelaki itu merasa kecewa dan sedih lalu mengucap: Wahai Tuhanku! Segala pujian untukMu. Aku telah terbahagi sedekahku kepada pencuri.

Dia berazam untuk melakukan sedekah seterusnya kerana dia merasakan bahawa sedekahnya kepada pencuri itu menjadi suatu perkara sia-sia dan tidak akan dinilai oleh Allah. Pada malam yang kedua dia keluar dari rumahnya bertujuan untuk bersedekah dan dia telah memberi sedekahnya itu kepada seorang perempuan yang dianggap miskin sedangkan pada hakikatnya dia merupakan seorang pelacur. Pada keesokan harinya pelacur itu menceritakan kepada oarng ramai bahawa ada seorang lelaki yang tidak dikenalinya telah memberi sedekah kepadanya. Mendengar cerita itu menyebabkan keadaan menjadi gempar di mana masing-masing menceritakan bagaimana ada seorang lelaki telah memberi sedekah kepada seorang pelacur. Akhirnya berita mengenai sedekahnya kepada seorang pelacur telah sampai ke telinga lelaki tadi sedangkan ketika dia memberikan sedekahnya itu dia menganggap bahawa orang itu miskin. Mendengar berita itu menyebabkan lelaki itu merasa bertambah kecewa dan sedih lalu mengucap: Wahai Tuhanku! Segala pujian untukMu. Aku telah terbahagi sedekahku kepada pelacur.

Dia berazam untuk melakukan sedekah seterusnya kerana dia merasakan bahawa sedekahnya kepada pencuri itu menjadi suatu perkara sia-sia dan tidak akan dinilai oleh Allah. Pada malam yang ketiga dia keluar dari rumahnya bertujuan untuk bersedekah dan dia telah memberi sedekahnya itu kepada seorang lelaki yang dianggap miskin sedangkan pada hakikatnya dia merupakan seorang kaya. Apabila dia mengetahui perkara sebenar buat kali ketiga, maka bertambah sedihlah lelaki ini sehingga dia mengucapkan: Wahai Tuhanku! bagi Engkau segala pujian itu. Aku telah tersilap bahagi sedekah kepada pencuri, pelacur dan juga si kaya.

Lelaki ini tidak tahu bagaimana Allah tetap menerima segala amalan sedekahnya walaupun dia merasakan bahawa sedekahnya itu ditolak oleh Allah. Akhirnya melalui pemberitahuan dalam mimpinya maka dia dapat tahu bahawa sedekahnya telah dibalas oleh Allah dengan pahala yang setimpal dengan amalannya itu. Allah juga memberitahunya bagaimana setiap sedekahnya telah membawa hikmah iaitu pencuri akan berhenti daripada mencuri, pelacur akan bertaubat daripada berzina dan si kaya akan turut bersedekah dengan harta yang dianugerahkan kepadanya oleh Allah.

Sesungguhnya sedekah yang diberikan dengan niat yang baik akan diterima Allah walaupun tidak jatuh kepada orang yang selayaknya. Bukan hasil yang dilihat (material atau keputusan zahir) tetapi usaha dan amalan untuk melakukannya itu yang dilihat.

“dan bahawasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).” (An-Najm : 40).

Wallau a’lam bisshawab. Geo.