wanita sholat

HUKUM SHALAT JUM’AT BAGI PEREMPUAN

Oleh: Fathurrahmân al-Katitanjî* (Dikutip dari alislamiyah.uii.ac.id)

Beberapa waktu yang lalu, saat penulis sedang menjalankan tugas dari kampus yaitu Kuliah Kerja Nyata selama +35 hari di dusun Pagutan, desa Purwoharjo, kecamatan Samigaluh, kabupaten Kulonprogo. Daerah tersebut dan sekitarnya penulis dapati saat melaksanakan shalat Jum’at banyak jama’ah perempuan yang melaksanakan atau ikut serta shalat Jum’at. Bahkan jama’ah perempuan lebih banyak dari pada jama’ah laki-laki. Pada kesempatan lain, ada jama’ah menanyakan soal hukum boleh tidaknya bagi perempuan shalat Jum’at. Karena kedangkalan ilmu penulis, awalnya masih menganggap aneh kasus ini tapi akhirnya penulis menemukan jawabannya.

Tidak berhenti sampai disini, ada kasus yang lebih menggemparkan dunia Islam masih ingat dengan Amina Wadud? Itu tuh, wanita liberal yang menciptakan sensasi pada 2005 dengan menjadi imam shalat Jum’at di gereja Katedral di AS. Yang nyeleneh lagi, makmum yang ikut-ikutan shalat di belakangnya tidak hanya kaum perempuan, tapi banyak juga yang laki-laki. Tentu saja ibadah shalat dengan makmum campur-aduk alias gado-gado ini menimbulkan kecaman dunia Islam.

Tak cukup sampai di situ, tiga tahun kemudian, tokoh kebanggaan kaum liberal yang juga profesor studi Islam di Virginia Commonwealth University ini, kembali berulah. Wadud didapuk sebagai imam shalat di Pusat Pendidikan Muslim di Oxford, Inggris pada 2008. Juga dengan makmum campur-aduk, laki-laki dan perempuan. Hebatnya lagi, bak khatib Jum’at beneran, si Wadud juga memberikan khutbah singkat sebelum shalat dua rakaat.Beragam kecaman dari ulama Islam dunia menampar muka Wadud, namun ia tak ambil pusing.

Tulisan ringan ini, merupakan jawaban dari persoalan dan pertanyaan yang pernah dilontarkan kepada penulis. Pembahasan ini lebih khusus mengenai seutas hukum shalat Jum’at bagi perempuan yang diambil dari beberapa sumber. Sebenarnya kajian mengenai hukum shalat Jum’at bagi perempuan sudah dikaji dalam literatur kajian Islam. Namun penulis hanya memaparkan kembali dengan bahasa yang sederhana.

 

Dalil Shalat Jum’at

Perintah untuk melaksanakan shalat Jum’at ini terdapat dalam al-Qur’ân surat al-Jumu’ah [62]: 9, Allâh berfirman,

9. Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS al-Jumu’ah [62]: 9)

Dalam hadits disebutkan, Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat Jum’at itu adalah fardhu bagi setiap orang Muslim kecuali 4, yaitu orang sakit, hamba sahaya, orang musafir dan wanita.” (HR. Bukhari).

Dalam riwayat lain juga di sebutkan, hadits dari Thariq bin Syihab dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam,

عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلَّا أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوْ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِيٌّ أَوْ مَرِيضٌ قَالَ أَبُو دَاوُد طَارِقُ بْنُ شِهَابٍ قَدْ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَسْمَعْ مِنْهُ شَيْئًا.رواه أبو داود

Dari Thariq bin Syihab, dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Jum’at itu wajib atas setiap Muslim dengan berjama’ah, kecuali empat golongan, yaitu hamba sahaya, perempuan, anak-anak dan orang sakit.” Abu Daud berkata, “Thariq bin Syihab benar-benar melihat Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, namun belum pernah mendengar sesuatu pun dari beliau.” (HR Abu Dawud, No. 1067)

Tidak wajibnya shalat jum’at bagi beberapa orang yang telah disebutkan hadits di atas, kalau  dilihat lebih jauh ada dalil yang mendukung tidak wajibnya shalat Jum’at bagi perempuan adalah hadits Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa Sallam yang menunjukkan keutamaan shalat di rumah bagi perempuan dibanding shalatnya di masjid (yang artinya), “Shalatnya salah seorang dari kalian di makhda’nya (kamar khusus yang dipergunakan untuk menyimpan barang berharga) lebih utama daripada shalatnya di kamarnya. Dan shalat di kamarnya lebih utama daripada shalatnya di rumahnya. Dan shalatnya di rumahnya lebih utama daripada shalat di masjid kaumnya. Dan shalat di masjid kaumnya lebih utama daripada shalatnya bersamaku.” (HR Ahmad, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban)

Berdasarkan dalil hukum di atas, shalat Jum’at wajib bagi laki-laki yang sudah baligh dan berakal kecuali ada hal yang menghalanginya untuk menjalankan shalat Jum’at di masjid. Hukum shalat Jum’at bagi perempuan kalau kita merujuk pada dalil tersebut di atas tidaklah wajib.

Dalam majalah Swara Qur’an dipaparkan yang intinya shalat Jum’at bagi perempuan tidak wajib dengan dua alasan:

Pertama, hadits dari Thariq bin Syihab dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat Jum’at itu wajib bagi setiap Muslim dengan berjama’ah kecuali untuk jenis orang. Mereka adalah budak, wanita, anak kecil, dan orang yang sedang sakit.” (HR Abu Dawud)

Kedua, kesepakatan para ulama. Ulama bersepakat bahwa shalat Jum’at bagi perempuan tidak wajib. Ibnu Khuzaimah berkata dalam shahihnya 3/112, “Kesepakatan para ulama mengenai tidak wajibnya shalat Jum’at bagi wanita sudah cukup menjadi dalil tanpa menukil hadits khusus mengenai hal tersebut”.

Berdasarkan dua dalil di atas, jelas kiranya bahwa shalat Jum’at tidak wajib bagi perempuan. Sedangkan surat al-Jumu’ah [62]: 9 tidak bertentangan dengan hadits, karena ayat ini bersifat umum, sedangkan sudah terdapat hadits shahih yang mengkhususkan dan mengecualikannya. Padahal dalil yang bersifat khusus lebih didahulukan dari pada dalil yang bersifat umum.

Namun apabila seorang perempuan telah mengerjakan shalat Jum’at bersama Imam (di masjid) maka shalatnya sah dan tidak perlu lagi mengerjakan shalat Zhuhur. Demikian yang disepakati para ulama sebagaimana disebutkan Imam al-Nawawi dalam al-Majmu’ Syahr al-Muhadzdzab (4/495).[6]

 

Apa Kata Ulama

Al-Khathabi dalam Ma’allim al-Sunnah, 1/644 berkata, “Para ahli fiqih bersepakat bahwa kaum perempuan tidak wajib menghadiri shalat Jum’at.” Dalam al-Mughni 2/338 Ibnu Qudamah menyatakan, “Mengenai perempuan tidak ada perbedaan pendapat bahwa shalat Jum’at tidak wajib bagi perempuan.

Dalam Jami’ al-Ahkam al-Nisâ V/105, Syaikh Musthafa al-Adawi mengatakan, “Menghadiri shalat Jum’at bagi kaum perempuan tidak wajib. Para ulama pun sudah menyepakati hal ini. Seluruh pendapat mereka sama tentang hal ini. Bahkan terdapat beberapa hadits yang menunjukkan bahwa shalat Jum’at tidak wajib bagi mereka.

Akan tetapi terdapat pembicaraan tentang kedhaifan hadits-hadits tersebut. Meskipun demikian, komentar yang tepat tentang hal ini, sebagaimana perkataan Ibnu Khuzaimah, “Dalil bahwasannya Allâh memerintahkan shalat Jum’at ketika terdengar adzan sebagaimana firman Allâh dalam surat al-Jum’ah [62]: 9, hanya khusus untuk laki-laki, bukan untuk perempuan adalah hadits, andai hadits tersebut shahih secara sanad. Andai hadits tersebut tidak shahih maka kesepakatan para ulama tentang tidak wajibnya shalat Jum’at bagi perempuan sudah mencukupi untuk menjadi dalil tanpa menukil hadits khusus mengenai hal tersebut.”

Lajnah Daimah (komite ulama saudi) mengatakan, “Shalat Jum’at bagi perempuan tidak wajib, akan tetapi jika ada seorang perempuan yang turut mengikuti shalat Jum’at, maka shalat perempuan tersebut sah. Jika perempuan tersebut memilih shalat di rumahnya maka dia harus melaksanakan shalat Zhuhur sebanyak empat rakaat dan dilakukan sesudah tibanya waktu shalat Zhuhur, yaitu sesudah matahari condong kebarat. Perempuan tersebut tidak boleh melaksanakan shalat Jum’at di dalam rumahnya.

Diriwayatkan oleh Abdurrazaq dalam Mushannaf 3/146 No.5105 dengan sanad yang shahih dari Ibnu Juraij. Ibnu Juraij menceritakan kalau beliau bertanya kepada Atha’, “Bagaimana pendapat anda bila perempuan keluar dari rumahnya disiang hari lalu mendengar adzan shalat Jum’at, bolehkah dia turut menghadiri shalat Jum’at?

Bila dia ingin menghadirinya maka tidak apa-apa, dan bila tidak menghadirinya juga tidak apa-apa.” Demikian jawaban Atha’

Ibnu Juraij bertanya lagi, “Bagaimana dengan firman Allâh yang terdapat pada surat al-Jumu’ah [62]: 9, bukankah ayat ini mencakup perempuan dan laki-laki? Dengan tegas Atha’ menjawab, “Tidak”.

Dalam al-Majmu’ 4/495 Imam Nawawi mengatakan, “Telah kami sampaikan di muka bahwa orang-orang yang tidak wajib melaksanakan shalat Jum’at seperti budak, perempuan, musafir dan sebagainya berkewajiban melaksanakan shalat Zhuhur. Bila mereka tidak melaksanakan shalat Zhuhur dan memilih shalat Jum’at maka hal tersebut sudah mencukupi berdasarkan kesepakatan ulama sebagaimana yang dinukil Ibnu Mundzir, Imam Haramain dan lain sebagainya.”

Dalam al-Mughni 2/341 Ibnu Qudamah berkata, “Para ulama yang saya ketahui semuanya bersepakat bahwa shalat Jum’at tidak wajib bagi perempuan. Mereka juga bersepakat bila perempuan turut menghadiri shalat Jum’at maka itu sudah mencukupi untuk mereka. Gugurnya kewajiban shalat Jum’at bagi mereka adalah untuk memberikan keringanan, sehingga bila mereka tidak mengambil keringanan tersebut maka hukumnya boleh seperti halnya orang yang sakit.”

Syaikh Musthafa al-Adawi mengatakan, “Jika seorang perempuan turut melaksanakan shalat Jum’at bersama kaum laki-laki maka hal tersebut sudah mencukupi sehingga tidak perlu lagi melaksanakan shalat Zhuhur, bahkan juga terdapat kesepakatan ulama dalam hal ini.

Lajnah Daimah juga menegaskan,” Jika seorang perempuan turut melaksanakan shalat Jum’at di masjid maka itu sudah mencukupinya, sehingga tidak perlu lagi shalat Zhuhur. Bahkan perempuan tersebut tidak boleh melaksanakan shalat Zhuhur pada hari itu. Namun jika dia shalat sendirian maka perempuan tersebut tidak memiliki hak kecuali melaksanakan shalat Zhuhur dan tidak boleh melakasanakan shalat Jum’at.”

Qatadah mengatakan, “Apabila perempuan ikut menghadiri pelaksanaan shalat Jum’at maka wanita tersebut melaksanakan shalat sebanyak 2 rakaat.”

Hasan al-Bashri berkata, “Seorang perempuan yang turut menghadiri shalat Jum’at  maka dia shalat mengikuti imam dan hal tersebut sudah mencukupinya.Dahulu para perempuan muhajirin melaksanakan shalat Jum’at bersama Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan mereka merasa cukup dengannya tanpa Zhuhur lagi.”

Bagi perempuan yang tidak melaksanakan shalat Jum’at di masjid berkewajiban melaksanakan shalat Zhuhur. Hal ini berdasarkan perkataan Ibnu Mas’ud, “Barangsiapa yang tertinggal shalat Jum’at maka hendaklah shalat Zhuhur 4 rakaat.” Bahkan Ibnu Mas’ud mengatakan, “Apabila kalian para perempuan shalat Jum’at bersama imam masjid maka kerjakanlah shalat sebagaimana imam tersebut, akan tetapi bila kalian melaksanakan shalat di rumah maka shalatlah sebanyak 4 rakaat.”

Dalam Subulus Salam, Imam Shan’ani menegaskan, bahwa pada dasarnya shalat yang ada pada hari Jum’at adalah shalat Zhuhur sehingga orang yang tertinggal atau tidak melaksanakan shalat Jum’at maka berkewajiban melaksanakan shalat Zhuhur berdasarkan kesepakatan ulama.

 

Fatwa MUI Tentang Perempuan Menjadi Imam Shalat.

Dalam Musyawarah Nasional (Munas) MUI VII, pada 19-22 Jumadil Akhir 1426 H/26-29 Juli 2005 M, MUI menetapkan Fatwa Nomor: 9/MUNAS VII/MUI/13/2005 Tentang Wanita Menjadi Imam Shalat.

Menurut MUI, perlu dilakukan untuk memberikan kepastian hukum dalam syari’at Islam tentang hukum perempuan menjadi imam shalat, agar dapat dijadikan pedoman bagi umat Islam.

MUI mendasarkan fatwanya pada Kitabullâh, sunnah Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam, ijma’ ulama, dan qaidah-qaidah fiqh. Firman Allâh Subhânhu wa Ta’âlâ antara lain, “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan oleh karena Allâh telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan)…” (QS al-Nisâ’ [4]: 34)

Sedangkan hadits-hadits Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, antara lain, ” Rasûlullâh memerintahkan Ummu Waraqah untuk menjadi imam bagi penghuni rumahnya.” (HR Abû Dâwud dan al-Hakîm).

Rasûlullâh bersabda, “Janganlah seorang perempuan menjadi imam bagi laki-laki.” (HR Ibnu Majah)

Rasûlullâh bersabda, “Shaf (barisan dalam shalat berjamaah) terbaik untuk laki-laki adalah shaf pertama (depan) dan shaf terburuk bagi mereka adalah shaf terakhir (belakang); sedangkan shaf terbaik untuk perempuan adalah shaf terakhir (belakang) dan shaf terburuk bagi mereka adalah shaf pertama (depan).”

Rasûlullâh bersabda, “Shalat dapat terganggu oleh perempuan, anjing dan himar (keledai).” (HR Muslim)

Rasûlullâh bersabda, “(Melaksanakan) shalat yang paling baik bagi perempuan adalah di dalam kamar rumahnya.” (HR Bukhari)

Adapun berdasarkan ijma’ sahabat, di kalangan mereka tidak pernah ada perempuan yang menjadi imam shalat di mana di antara makmumnya adalah laki-laki. MUI mengutip kitab Tuhfah Al-Ahwazi karya al-Mubarakfuri, “Para sahabat juga berijma’ bahwa perempuan boleh menjadi imam shalat berjamaah yang makmumnya hanya wanita, seperti yang dilakukan oleh Aisyah dan Ummu Salamah.

Dan berdasarkan qaidah fiqh, “Hukum asal dalam masalah ibadah adalah tauqif dan ittiba’ (mengikuti petunjuk dan contoh dari Nabi).”

Selain itu, MUI juga memerhatikan pendapat para ulama seperti termaktub dalam kitab Al-Umm (Imam Syafi’i), Al-Majmu’ Syarah Al-Muhazzab (Imam Nawawi), dan Al-Mughni (Ibnu Qudamah).

Berdasarkan telaah kitab-kitab tersebut, dan kenyataan bahwa sepanjang masa sejak zaman Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam, tidak diketahui adanya shalat jamaah di mana imamnya perempuan dan makmumnya laki-laki. Oleh sebab itu, Sidang Komisi C Bidang Fatwa MUI memutuskan fatwa. “Dengan bertawakkal kepada Allâh Subhânhu wa Ta’âlâ, MUI memutuskan bahwa perempuan menjadi imam shalat berjamaah yang di antara makmumnya terdapat orang laki-laki hukumnya haram dan tidak sah. Adapun perempuan yang menjadi imam shalat berjamaah yang makmumnya wanita, hukumnya mubah.

Fatwa ini ditetapkan di Jakarta pada tanggal 21 Jumadil Akhir 1426 H yang bertepatan dengan 28 Juli 2005 M, dan ditandatangani oleh Ketua MUI KH Ma’ruf Amin dan Sekretaris Hasanuddin.

250px-Tempeh_tempe

Allah Lebih Tahu Yang Kita Butuhkan


Di sebuah desa hiduplah seorang ibu penjual tempe. Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang. “Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya. ..” demikian dia selalu memaknai hidupnya.

Suatu pagi, setelah salat subuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe, dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atas meja panjang. Tapi, deg! dadanya gemuruh.Tempe yang akan dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang kedelai, sebagian berderai, belum disatukan ikatan-ikatan putih kapas dari peragian. Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya lemas. Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang, untuk makan, dan modal membeli kacang kedelai, yang akan dia olah kembali menjadi tempe.

Di tengah putus asa,terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, di tengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa. “Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini. Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe. Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku…” Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan doanya.

Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe. Dia rasakan hangat yang menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung. Dadanya gemuruh. Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe. Dan… dia kecewa. Tempe itu masih belum juga berubah. Kacang kedelainya belum semua menyatu oleh kapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Diayakin, Allah pasti sedang “memproses” doanya. Dan tempe itu pasti akan jadi.

Dia yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah. Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang,dia berdoa lagi. “Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau Maha Tahu, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain berjualan tempe. Karena itu ya Allah, jadikanlah.Bantulah aku, kabulkan doaku…”

Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe.Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari daun itu, dan… belum jadi. Kacang kedelai itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang kedelai tersebut. “Keajaiban Tuhan akan datang… pasti,” yakinnya.

Dia pun berjalan ke pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin, “tangan” Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas tempe-tempenya. Berkali-kali dia dia memanjatkan doa… berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya.

Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu. “Pasti sekarang telah jadi tempe!” batinnya. Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dan… dia terlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi.

Air mata menitiki keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempe ini tidak jadi? Apakah Tuhan ingin aku menderita? Apa salahku? Demikian batinnya berkecamuk.

Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu. Dan dia tiba-tiba merasa lapar… merasa sendirian. Tuhan telah meninggalkan aku, batinnya.

Airmatanya kian menitik. Terbayang esok dia tak dapat berjualan… esok dia pun tak akan dapat makan. Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan “teman-temannya” sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah laku. Kesedihannya mulai memuncak. Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat…

Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan wajah, seorang perempuan cantik, paro baya, tengah tersenyum, memandangnya. “Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu punya?”

Penjual tempe itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan. “Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe…” Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi. “jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe…”

“Bagaimana Bu? Apa ibu menjual tempe setengah jadi?” tanya perempuan itu lagi.

Kepanikan melandanya lagi. “Duh Gusti… bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan jadikan tempe ya?” ucapnya berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu. Dan apa yang dia lihat, sahabat?? Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe yang masih sama. Belum jadi! “Alhamdulillah!” pekiknya, tanpa sadar. Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli.

Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. “Kok Ibu aneh ya, mencari tempe kok yang belum jadi?”

“Oohh, bukan begitu, Bu. Anak saya yang kuliah S2 di Australia ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi, saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Oh ya, jadi semuanya berapa, Bu?”

Sahabat……Dalam kehidupan sehari-hari, kita acap berdoa, dan “memaksakan” Allah memberikan apa yang menurut kita paling cocok untuk kita. Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa diabaikan, merasa kecewa dan merasa ditinggalkan Padahal, Allah paling tahu apa yang paling cocok untuk kita. Bahwa semua rencananya adalah SEMPURNA.

blindfolded

Anak Buta dan Seorang Pria

 

 

 

Pagi itu seorang anak buta duduk di depan sebuah gedung perkantoran dengan tangan memegang topi sambil menengadahkannya memohon belas kasihan. Di sebelah anak kecil tersebut terdapat sebuah papan dengan tulisan “Saya buta, tolonglah saya”. Dan terdapat beberapa buah koin rupiah yang berhasil dikumpulkannya.

Sesaat kemudian tampak seorang pria berjalan lewat di depan anak tersebut. Tiba-tiba dia berhenti dan merogoh sakunya serta mengambil satu lembar uang dan meletakkannya di dalam topi tersebut. Kemudian ia menambil papan tulisan tersebut, menghapusnya dan menuliskan sebuah kalimat lain. Lalu ia meletakkannya kembali di tempat semula di samping anak buta tersebut agar setiap orang yang melewati anak tersebut dapat melihat dan membaca tulisan tersebut dengan jelas.

Tak lama setelah itu, tampak topi yang dipegang anak buta tersebut mulai banyak terisi. Hampir setiap orang yang lewat berhenti dan memberi anak buta tersebut uang.

Saat sore tiba, lelaki yang merubah tulisan tersebut kembali melintas di depan anak tersebut. Si anak yang mengenal langkah kaki tersebut berusaha menghentikan dan bertanya, “Bukankan anda yang telah mengubah tulisan di papan ini tadi pagi? Apa yang anda tulis?”

Lelaki tersebut menjawab, “Saya menulis sebuah kenyataan, saya menulis apa yang kamu tulis tapi dengan cara berbeda.”

Lelaki tersebut menulis: “Hari ini sangat indah dan saya tidak bisa melihatnya.”

Apakah pembaca berpikir bahwa tidak ada bedanya tulisan pertama dengan tulisan pengganti tersebut?

Tentu, bahwa kedua tulisan menyebutkan bahwa si anak buta. Tapi tulisan pertama lugas menyebut si anak buta. Sedangkan tulisan kedua memberitahu orang-orang bahwa mereka sangat beruntung masih dapat melihat. Dan ternyata tulisan berbeda dan yang kedua tampak sangat efektif.

Dan Dia-lah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur (Al-Mu’minun: 78)

kupu kupu metamorfosis

Gadis Kecil dan Kupu-Kupu

Suatu hari seorang gadis kecil menemukan sebuah kepompong di halaman rumahnya yang akan mengeluarkan seekor kupu-kupu. Teringat akan keindahan warna kupu-kupu, gadis kecil itu menunggunya dengan sabar. Sebuah lubang kecil tampak mulai terbuka. Tampak kupu-kupu berjuang keras berusaha keluar dari lubang yang belum sepenuhnya terbuka tersebut. Lama sekali gadis tersebut menunggunya dan tidak tampak kupu-kupu tersebut akan berhasil keluar.

Gadis kecil tersebut merasa kupu-kupu tersebut tidak akan dapat keluar dan ia memutuskan untuk membantunya. Kemudian ia mengambil sebuah gunting dan menggunting lobang kecil tersebut menjadi sedikit lebih besar sehingga kupu tersebut dapat keluar.

Tak lama setelah lubang tersebut terbuka, kupu-kupu tersebut dapat keluar dengan mudah. Tapi alangkah terkejutnya si gadis kecil ketika melihat tubuh kupu-kupu tersebut membengkak dengan sayap yang keriput. Gadis itu tetap menunggu dengan sabar berharap sayap kupu tersebut melebar dan menjadi normal sehingga dapat digunakan untuk terbang. Lama sekali ia menunggu berharap hal tersebut terjadi, tapi tak ada perubahan apapun dan hari itu ia mendapati kupu-kupu tersebut tidak dapat terbang di sisa hidupnya dan hanya akan terus merangkak di tanah sampai ajal menjemputnya.

Pelajaran apa yang dapat diambil dari kisah di atas? Apakah gadis kecil tersebut tidak cukup baik menolong kupu-kupu itu untuk keluar dari kepompongnya?
Ternyata kepompong yang tertutup tersebut dan perjuangan kupu-kupu untuk keluar dari kepompong diperlukan untuk memaksa cairan dalam tubuh kupu-kupu menyebar ke sayapnya hingga siap dipakai untuk terbang.

Persis seperti kita dalam menjalani kehidupan, bahwa hidup tanpa hambatan akan membuat kita lemah dan melumpuhkan kita. Dan kita tidak akan pernah bisa “TERBANG”.

tips-awet-pacaran

Apakah Pacaran Itu Boleh Menurut Hukum Islam?

Pertanyaan ini mungkin yang paling menggelitik dan sering diperdebatkan. Dalam Islâm telah diberikan beberapa batasan dalam pergaulan antara laki-laki dan wanita agar mereka tidak terjerumus ke dalam perbuatan tercela. Islâm melarang keras berkhalwat, yang dalam pengertian umum adalah berpacaran, yaitu berdua-duaan antara seorang laki-laki dengan seorang wanita. Karena perbuatan tersebut dapat membuat pelakunya terjerumus ke dalam perbuatan nista, yaitu perzinahan, padahal Allâh SWT. berfirman:
وَ لاَ تَقْرَبُوْا الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَ سَاءَ سَبِيْلاً
Artinya :
“Dan janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya — zina — itu adalah keji dan sejahat-jahatnya jalan”.
(Surah Al-Mâ-idah (5):32)
            Maksud ayat ini menurut alm. Buya Hamka ialah : “Segala sikap dan tingkah-laku yang dapat membawa kepada zina janganlah dilakukan. Hendaklah dijauhi!”. Selanjutnya alm. Buya Hamka mengatakan, “Khalwat yaitu berdua-dua saja laki-laki dengan perempuan adalah termasuk mendekati zina. Islâm mengharamkan khalwat”.
(Lihat Tafsîr Al-Azhar juz 15 hal. 57)
Rasûlullâh saw. juga telah menegaskan hal ini dalam sebuah hadits:
أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ وَ ثَالِثُهُمَا الشَّيْطَانُ………
Artinya :
“Ingatlah! Tidaklah berkhalwat (berdua-duaan) seorang laki-laki dengan seorang wanita, melainkan yang ketiganya adalah syaithân…….”.
(H.R. At-Tirmidzî dari Ibnu ‘Umar)
            Dengan kata-lain, berpacaran atau berdua-duaan sama-saja membuka peluang bagi syaithân untuk menguasai kedua belah pihak dan selanjutnya menjerumuskan keduanya ke dalam perbuatan keji yaitu perzinahan.
keistimewaan-hari-jumat

Anjuran Mandi Sebelum Sholat Jum’at

Dalam tulisan ini kita akan membahas hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu yang berisi anjuran untuk mandi pada hari Jum’at.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جُمُعَةٍ مِنَ الْجُمُعَةِ: يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ، إِنَّ هَذَا يَوْمٌ جَعَلَهُ اللَّهُ تَعَالَى لَكُمْ عِيدًا، فَاغْتَسِلُوا، وَعَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada hari Jum’at : “Wahai sekalian kaum muslimin, sesungguhnya hari ini telah Allah jadikan bagi kalian hari ‘Ied, maka mandilah kalian dan hendaklah kalian bersiwak”.
Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy 1/299 (1/477) no. 1427 & 3/243 (3/345) no. 5960, Ath-Thabaraaniy dalam Ash-Shaghiir (Ar-Raudlud-Daaniy) no. 358 & Al-Ausath no. 3433, Ibnul-Muqri’ dalam Mu’jam-nya no. 411, Ibnul-Mudhaffar Al-Bazzaaz dalam Gharaaibu Maalik no. 88, Abu Ahmad Al-Haakim dalam ‘Awaaliy Maalik bin Anas no. 55, dan Ibnu ‘Abdil-Barr dalam At-Tamhiid 11/211-212; semuanya dari jalan Yaziid bin Sa’iid Al-Iskandaraaniy, dari Maalik bin Anas, dari Sa’iid bin Abi Sa’iid Al-Maqburiy, dari ayahnya, dari Abu Hurairah secara marfuu’.
Riwayat di atas ma’lul. Ad-Daaraquthniy dan Abu Haatim rahimahumallah sepakat akan ke-ma’lul-annya, hanya saja mereka berbeda pendapat dalam bahasan pen-ta’lil-annya.
a.     Ta’liil Ad-Daaraquthniy rahimahullah.
Setelah menyebutkan perselisihan riwayat, Ad-Daaraquthniy rahimahullah menyimpulkan :
وَالصَّحِيحُ قَوْلُ أَصْحَابِ الْمُوَطَّأِ الْقَعْنَبِيُّ وَمَنْ تَابَعَهُ: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ مَوْقُوفًا
“Dan yang benar adalah perkataan ashhaabu Al-Muwaththa’ yaitu Al-Qa’nabiy dan yang mengikutinya : Dari Abu Hurairah secara mauquuf” [Al-‘Ilal, 10/384-385 no. 2070].
Yaziid telah diselisihi ashhaab Maalik yang kedudukannya lebih tingginya darinya seperti Al-Qa’nabiy, ‘Abdurrazzaaq, ‘Abdurrahmaan bin Al-Qaasim, Abu Mush’ab Az-Zuhriy dan Suwaid bin Sa’iid yang meriwayatkan dari Maalik secara mauquuf.
Yaziid bin Sa’iid selain disifati oleh Abu Haatim Ar-Raaziy sebagai tempatnya kejujuran, ia juga disifati oleh Ibnu Hibbaan sebagai orang yang sering meriwayatkan hadits-hadits ghariib (yughrib) [Ats-Tsiqaat, 9/277].
Riwayat mauquuf tersebut adalah :
عَنْ سَعِيْدِ بنِ أَبِي سَعِيد الْمَقْبُرِي، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ : ” غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ كَغُسْلِ الْجَنَابَةِ “
Dari Sa’iid bin Abi Sa’iid Al-Maqburiy, dari Abu Hurairah, bahwasannya ia berkata : “Mandi hari Jum’at adalah wajib bagi setiap orang yang sudah bermimpi (baligh), seperti mandi janaabah”.
[tanpa menyebutkan perantara Abu Sa’iid Al-Maqburiy]
Diriwayatkan oleh Maalik dalam Al-Muwaththa’ 1/440 no. 240 dari darinya ‘Abdurrazzaaq dalam Al-Mushannaf no. 5305, dan Ibnul-Mundzir dalam Al-Ausath no. Ibnul-Mudhaffar Al-Bazzaaz dalam Gharaaibul-Maalik no. 90.
Inilah yang mahfuudh menurut Ad-Daaraquthniy rahimahullah.
b.     Ta’liil Abu Haatim Ar-Raaziy rahimahullah.
Abu Haatim Ar-Raaziy rahimahullah berkata :
وَهِمَ يَزِيدُ بْنُ سَعِيدٍ فِي إِسْنَادِ هَذَا الْحَدِيثِ، إِنَّمَا يَرْوِيهِ مَالِكٌ بِإِسْنَادٍ مُرْسَلٌ
“Yaziid bin Sa’iid telah ragu/keliru dalam membawakan sanad hadits ini. Maalik hanyalah meriwayatkan hadits tersebut dengan sanad mursal” [Al-‘Ilal 2/560 no. 591].
Tidak ada yang mengikuti Yaziid dalam periwayatan hadits tersebut dari Maalik secara marfuu’. Yaziid telah diselisihi oleh ashhaab Maalik yang kedudukannya lebih tinggi daripada Yaziid, seperti Asy-Syaafi’iy, ‘Abdullah bin Wahb, Wakii’ bin Al-Jarraah, Yahyaa bin Sa’iid Al-Qaththaan, Al-Qa’nabiy, Zaid bin Al-Hubbaab, Yahyaa Al-Laitsiy, dan Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibaaniy; dimana mereka semua meriwayatkan hadits itu secara mursal dari jalur Maalik, Az-Zuhriy, dari ‘Ubaid bin Sabbaaq, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
عَنْ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ ابْنِ السَّبَّاقِ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي جُمُعَةٍ مِنَ الْجُمَعِ: ” يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ إِنَّ هَذَا يَوْمٌ جَعَلَهُ اللَّهُ عِيدًا فَاغْتَسِلُوا، وَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ طِيبٌ فَلَا يَضُرُّهُ أَنْ يَمَسَّ مِنْهُ، وَعَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ
Dari Ibnu Syihaab, dari Ibnus-Sabbaaq : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda pada suatu hari Jum’at : “Wahai sekalian kaum muslimin, sesungguhnya hari ini telah Allah jadikan sebagai hari ‘Ied. Maka mandilah kalian !. Barangsiapa yang mempunyai wewangian, pakailah. Dan hendaklah kalian bersiwak”.
‘Ubaid bin As-Sabbaaq adalah seorang taabi’iy yang tsiqah.
Diriwayatkan oleh Maalik dalam Al-Muwaththa’ 1/349-152 no. 151 dan darinya Asy-Syaafi’iy dalam Al-Umm 1/216, Ibnu Wahb dalam Al-Muwaththa’ no. 217, Ibnu Abi Syaibah no. 5052, Musaddad sebagaimana dibawakan Ibnu Hajar dalam Al-Mathaalib no. 723, Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa 3/243 (3/345) no. 5959, Al-Jauhariy dalam Musnad Al-Muwaththa’, dan Abu Ahmad Al-Haakim dalam ‘Awaaliy Maalik bin Anas no. 15.
Riwayat mursal inilah yang mahfudh menurut Abu Haatim rahimahullah.
Hadits ‘Ubaid bin As-Sabbaaq yang mursal ini disambungkan oleh Ibnu Maajah no. 1098, Ath-Thuusiy dalam Al-Mukhtashar no. 491, Ath-Thabaraaniy dalam Ash-Shaghiir (Ar-Raudlud-Daaniy) no. & dalam Al-Ausath no. 7355, Abu Ahmad Al-Haakim dalam ‘Awaaliy Maalik bin Anas no. 16, Aslam bin Sahl dalam Taariikh Waasith 1/299, dan Abu Nu’aim dalam Taariikh Ashbahaan 2/130; semuanya dari jalan ‘Ammaar bin Khaalid Al-Waasithiy, dari ‘Aliy bin Ghuraab, dari Shaalih bin Abil-Akhdlar, dari Az-Zuhriy, dari ‘Ubaid bin As-Sabbaaq, dari Ibnu ‘Abbaas, dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Namun riwayat maushul ini tidak shahih, karena ‘an’anah ‘Aliy bin Ghuraab – sedangkan ia seorang mudallis[1] – dan kelemahan Shaalih bin Abil-Akhdlar[2].
Ada syaahid dari hadits marfuu’ Anas bin Maalik dengan lafadh semisal sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa 3/243 (3/345) no. 5961 dan dalam Syu’abul-Iimaan no. 2732, dan Ibnu ‘Abdil-Barr dalam At-Tamhiid 11/212; semuanya dari jalan Yahyaa bin ‘Utsmaan bin Shaalih, dari ayahnya, dari Ibnu Lahii’ah, dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihaab Az-Zuhriy, dari Anas : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “…..(al-hadits)….”
Riwayat ini lemah dikarenakan Ibnu Lahii’ah. Ia seorang yang shaduuq, namun menjadi kacau hapalannya setelah kitab-kitabnya terbakar. Tidak diketahui apakah ‘Utsmaan bin Shaalih As-Sahmiy mendengar sebelum atau setelah kitab-kitab Ibnu Lahii’ah terbakar[3]. Namun kemungkinan besar, riwayat ini termasuk riwayat-riwayat yang didengar ‘Utsmaan dari Ibnu Lahii’ah setelah kitabnya terbakar karena riwayatnya menyelisihi riwayat-riwayat yang disebutkan di atas. Oleh karena itu Al-Baihaqiy setelah membawakan riwayat Anas berkata :
وَالصَّحِيحُ مَا رَوَاهُ مَالِكٌ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ مُرْسَلا
“Dan yang benar adalah yang diriwayatkan Maalik dari Ibnu Syihaab secara mursal” [As-Sunan Al-Kubraa, 3/243 (3/345) no. 5961].
Faedah-Faedah :
1.     Shahih atau hasannya dhahir suatu sanad tidak serta-merta mengkonsekuensikan shahihnya riwayat, karena kemungkinan ada ‘illat tersembunyi yang terdapat dalam jalur periwayatan lain dan kritikan yang diberikan oleh para ulama ahli naqd terhadap riwayat dimaksud.
2.     Para ulama berbeda pendapat tentang hukum mandi Jum’at. Ada yang mewajibkan secara mutlak, ada yang mewajibkan jika badannya bau (jika tidak, maka hanya sunnah saja), dan ada pula yang hanya berpendapat sunnah saja secara mutlak.
a.      Dalil-dalil utama yang dipakai ulama yang mewajibkannya antara lain adalah :
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ
Dari Abu Sa’iid Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Mandi pada hari Jum’at adalah wajib bagi setiap orang yang telah bermimpi (baligh)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 858 & 879 & 880 & 895 & 2665, Muslim no. 846, dan yang lainnya].
عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” عَلَى كُلِّ رَجُلٍ مُسْلِمٍ فِي كُلِّ سَبْعَةِ أَيَّامٍ غُسْلُ يَوْمٍ وَهُوَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ “
Dari Jaabir, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Wajib bagi setiap laki-laki muslim untuk mandi satu hari setiap tujuh hari, yaitu mandi pada hari Jum’at” [Diriwayatkan oleh An-Nasaa’iy no. 1378; dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albaaniy dalam Shahiih Sunan An-Nasaa’iy, 1/444].
عَنْ طَاوُس: قُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ: ذَكَرُوا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” اغْتَسِلُوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْسِلُوا رُءُوسَكُمْ، وَإِنْ لَمْ تَكُونُوا جُنُبًا وَأَصِيبُوا مِنَ الطِّيبِ “، قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: أَمَّا الْغُسْلُ فَنَعَمْ، وَأَمَّا الطِّيبُ فَلَا أَدْرِي
Dari Thaawus : Aku pernah bertanya kepada Ibnu ‘Abbaas : Orang-orang menyebutkan bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Mandilah pada hari Jum’at dan basuhlah kepala kalian sekalipun tidak sedang junub, dan pakailah wewangian.” Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa menjawab : “Adapun mandi, maka memang benar beliau mengatakannya, sedangkan memakai wewangian aku tidak tahu” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 884 dan Muslim no. 848].
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمُ الْجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ “
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Apabila salah seorang di antara kalian mendatangi shalat Jum’at, hendaknya ia mandi (terlebih dahulu)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 877 & 894 & 919 dan Muslim no. 844].
Dhahir hadits-hadits di atas menyatakan kewajibannya dan perintah yang tegas untuk melakukan mandi Jum’at.
b.      Dalil-dalil utama yang dipakai ulama yang tidak mewajibkannya antara lain :
عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَنْ تَوَضَّأَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَبِهَا وَنِعْمَتْ، وَمَنِ اغْتَسَلَ فَالْغُسْلُ أَفْضَلُ “.
Dari Samurah bin Jundab, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang berwudlu pada hari Jum’at maka itu sudah cukup dan baik. Dan barangsiapa yang mandi, maka itu lebih utama (afdlal)” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 497, Abu Daawud no. 354, An-Nasaa’iy no. 1380, dan yang lainya dari jalan Qataadah, dari Al-Hasan, dari Samurah bin Jundab; shahih[4]].
Hadits ini sangat jelas menunjukkan wudlu telah mencukup, sedangkan mandi hanya merupakan keutamaan saja (bukan wajib).
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ وَسِوَاكٌ، وَيَمَسُّ مِنَ الطِّيبِ مَا قَدَرَ عَلَيْهِ
Dari ‘Abdurrahmaan bin Abi Sa’iid Al-Khudriy, dari ayahnya : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Mandi pada hari Jum’at adalah wajib bagi setiap orang yang telah bermimpi (baligh). Begitu juga dengan bersiwak dan memakai wewangian jika ia mampu melakukannya’ [Diriwayatkan oleh Muslim no. 846 dan Abu Daawud no. 344].
Telah menjadi kesepakatan bahwa bersiwak dan memakai wewangian pada hari Jum’at tidaklah wajib. Oleh karenannya ketika mandi Jum’at digabungkan dengan keduanya dalam satu lafadh dan hukum, maka mandi Jum’at di sini tidak bermakna wajib. Makna wajib yang terdapat dalam hadits hanyalah menunjukkan penekanan yang sangat (sunnah muakkadah) saja.
c.      Dalil-dalil utama yang dipakai ulama yang mewajibkan hanya jika badannya bau adalah hadits yang dibawakan kelompok kedua (b) ditambah dengan :
عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّهَا قَالَتْ: كَانَ النَّاسُ يَنْتَابُونَ الْجُمُعَةَ مِنْ مَنَازِلِهِمْ مِنَ الْعَوَالِي فَيَأْتُونَ فِي الْعَبَاءِ وَيُصِيبُهُمُ الْغُبَارُ، فَتَخْرُجُ مِنْهُمُ الرِّيحُ، فَأَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنْسَانٌ مِنْهُمْ وَهُوَ عِنْدِي، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” لَوْ أَنَّكُمْ تَطَهَّرْتُمْ لِيَوْمِكُمْ هَذَا “
Dari ‘Aaisyah, ia berkata : “Manusia datang menghadiri Jum’at dari rumah-rumah mereka yaitu dari Al-‘Awaaliy. Mereka datang dengan mengenakan mantel dan debu juga menimpa mereka. Maka keluarlah bau tidak sedap dari badan mereka. Salah diantara mereka mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yang saat itu beliau ada di sisiku. Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Seandainya kalian bersuci (mandi) untuk hari kalian ini” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 902 dan Muslim no. 847 (6)].
عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّهَا قَالَتْ: ” كَانَ النَّاسُ أَهْلَ عَمَلٍ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ كُفَاةٌ فَكَانُوا يَكُونُ لَهُمْ تَفَلٌ، فَقِيلَ لَهُمْ لَوِ اغْتَسَلْتُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ “
Dari ‘Aaisyah, bahwasannya ia berkata : Dulu orang-orang merupakan pekerja keras yang tidak memiliki pelayan, sehingga tubuh mereka mengeluarkan bau yang tidak sedap. Dikatakanlah kepada mereka : “Seandainya kalian mandi pada hari Jum’’at” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 847].
عَنْ جَابِر بْن عَبْدِ اللَّهِ ، قَالَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” مَنْ أَكَلَ ثُومًا، أَوْ بَصَلًا، فَلْيَعْتَزِلْنَا أَوْ لِيَعْتَزِلْ مَسْجِدَنَا، وَلْيَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ،
Dari Jaabir bin ‘Abdillah, ia berkata : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang makan bawang putih atau bawang merah, hendaklah ia memisahkan diri dari kami atau masjid kami. Dan hendaklah ia duduk di rumahnya….” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 855 dan Muslim no. 564].
Dalam riwayat lain dari Jaabir secara marfuu’ :
مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ الْمُنْتِنَةِ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ الإِنْسُ
Barangsiapa yang makan sayuran yang busuk baunya ini (yaitu bawang putih), janganlah ia mendekati masjid kami, karena malaikat akan terganggu dengan bau yang menyebabkan manusia merasa terganggu darinya” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 563].
Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa sesuatu yang dapat mengganggu manusia di masjid berupa bau busuk wajib untuk dijauhkan, sehingga sarana untuk dapat menghilangkannya pun (yaitu : mandi) dihukumi wajib.
Dengan melihat pendalilan yang dibawakan tiga kelompok ulama di atas, maka pendapat kedua dan ketiga adalah berdekatan. Pada asalnya mandi Jum’at tidaklah wajib. Namun jika seseorang badannya mengeluarkan bau yang sangat menyengat dan mengganggu orang-orang yang ada di sekitarnya, maka ia wajib mandi agar bau yang ada di badannya dapat dihilangkan, atau minimal dikurangi.
3.     Beberapa ulama berkonklusi dengan hadits yang ada dalam bahasan di atas tentang disunnahkannya mandi pada hari ‘Ied (sebelum shalat).[5] Loh, kok bisa ?. Hadits di atas menyebutkan ‘illat disyari’atkannya (dianjurkannya) mandi Jum’at adalah karena Allah ta’ala telah menjadikan hari tersebut sebagai ‘Ied. Anjuran mandi pada hari Jum’at tersebut diqiyaskan dengan ‘Iedul-Fithri dan ‘Iedul-Adlhaa karena adanya kesamaan ‘illat.
Namun sebagaimana telah lewat, hadits di atas adalah lemah (dla’iif).
Tidak ada dalil shahih dan sharih dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang anjuran mandi pada hari ‘Iedain (sebelum shalat). Meskipun demikian, amalan itu merupakan amalan masyhur di kalangan salaf.
عَنْ نَافِعٍ، أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى
Dari Naafi’ : Bahwasannya ‘Abdullah bin ‘Umar biasa mandi pada hari raya ‘Iedul-Fithri sebelum berangkat (ke mushalla) [Diriwayatkan oleh Maalik 2/85-86 no. 468; shahih].
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ، عَنْ زَاذَانَ، أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ عَلِيًّا عَنِ الْغُسْلِ، فَقَالَ: ” الْغُسْلُ يَوْمَ الْأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ “
Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Syu’bah, dari ‘Amru bin Murrah, dari Zaadzaan : Bahwasannya ada seorang laki-laki bertanya kepada ‘Aliy (bin Abi Thaalib) tentang mandi. Ia (‘Aliy) menjawab : “Mandi dilakukan pada hari ‘Iedul-Adlhaa dan ‘Iedul-Fithri” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/181 (4/230) no. 5822; shahih].
ثنا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، ثنا لَيْثٌ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ خَالِدٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ، أَنَّهُ قَالَ: ” سُنَّةُ الْفِطْرِ ثَلاثٌ: الْمَشْيُ إِلَى الْمُصَلَّى، وَالأَكْلُ قَبْلَ الْخُرُوجِ، وَالاغْتِسَالُ “
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’iid : Telah menceritakan kepada kami Laits, dari ‘Abdurrahmaan bin Khaalid, dari Ibnu Syihaab, dari Sa’iid bin Al-Masayyib, ia berkata : “Sunnah ‘Iedul-Fithri itu ada tiga : berjalan kaki menuju mushalla, makan sebelum keluar mushalla, dan mandi” [Diriwayatkan oleh Al-Faryaabiy dalam Ahkaamul-‘Iedain no. 18 & 26; shahih].
An-Nawawiy rahimahullah berkata :
فقال الشافعي والاصحاب يستحب الغسل للعيدين وهذا لا خلاف فيه والمعتمد فيه أثر ابن عمر والقياس علي الجمعة
“Asy-Syaafi’iy dan shahabat-shahabatnya menyukai mandi untuk ‘Iedain. Tidak ada perbedaan pendapat padanya. Dan yang mu’tamad dalam permasalahan tersebut (anjuran mandi ‘Ied) adalah atsar Ibnu ‘Umar dan pengqiyasan terhadap hari Jum’at” [Al-Majmuu’, 5/7].
Waktu mandi hari ‘Ied yang paling utama adalah setelah terbit fajar.
Ibnu Qudaamah rahimahullah berkata :
وَقَالَ ابْنُ عَقِيلٍ : الْمَنْصُوصُ عَنْ أَحْمَدَ أَنَّهُ قَبْلَ الْفَجْرِ وَبَعْدَهُ ؛ لِأَنَّ زَمَنَ الْعِيدِ أَضْيَقُ مِنْ وَقْتِ الْجُمُعَةِ ، فَلَوْ وُقِفَ عَلَى الْفَجْرِ رُبَّمَا فَاتَ ، وَلِأَنَّ الْمَقْصُودَ مِنْهُ التَّنْظِيفُ ، وَذَلِكَ يَحْصُلُ بِالْغُسْلِ فِي اللَّيْلِ لِقُرْبِهِ مِنْ الصَّلَاةِ ، وَالْأَفْضَلُ أَنْ يَكُونَ بَعْدَ الْفَجْرِ ، لِيَخْرُجَ مِنْ الْخِلَافِ ، وَيَكُونَ أَبْلَغَ فِي النَّظَافَةِ ، لِقُرْبِهِ مِنْ الصَّلَاةِ
“Ibnu ‘Uqail berkata : Yang ternukil secara dari Ahmad bahwa waktu mandi itu (boleh) sebelum dan setelah terbitnya fajar, karena waktu ‘Ied lebih sempit daripada waktu Jum’at. Seandainya terpaku pada fajar, barangkali malah terlewat. Dan hal itu dikarenakan maksud pelaksanaan mandi adalah untuk memberishkan badan. Maka, maksud tersebut dalam terlaksana dengan mandi di waktu malam karena dekatnya waktu shalat. Dan yang lebih utama (afdlal) dilakukan setelah fajar dalam rangka keluar dari khilaaf (perbedaan pendapat), serta lebih bersih karena dekatnya waktu shalat” [Al-Mughniy, 2/228].
An-Nawawiy rahimahullah berkata :
وفى وقت صحة هذا الغسل قولان مشهوران (أحدهما) بعد طلوع الفجر نص عليه في الام (وأصحهما) باتفاق الاصحاب يجوز بعد الفجر وقبله
 “Tentang waktu sahnya mandi ‘Ied, terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah dilaksanakan setelah terbitnya fajar. Hal tersebut ditegaskan dalam kitab Al-Umm. Pendapat inilah adalah yang paling benar dengan kesepakatan shahabat-shahabat kami (ulama Syaafi’iyyah). Diperbolehkan juga dilaksanakan sebelum dan setelah fajar” [Al-Majmuu’, 5/7].
Wallaahu a’lam.
Ini saja yang dapat dituliskan, semoga ada manfaatnya.

 

[1]      ‘Aliy bin Ghuraab Al-Fazaariy, Abul-Hasan/Abul-Waliid Al-Kuufiy Al-Qaadliy; seorang yang shaduuq, dan sering melakukan tadliis lagi bertasyayyu’. Termasuk thabaqah ke-8 dan wafat tahun 184 H. Dipakai oleh An-Nasaa’iy dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 703 no. 4817].
Dimasukkan Ibnu Hajar dalam jajaran mudallis tingkatan ketiga [Thabaqaatul-Mudallisiin/Ta’riifu Ahlit-Taqdiis, hal. 99 no. 89.
[2]      Shaalih bin Abil-Akhdlar Al-Yamaamiy; seorang yang dla’iif. Termasuk thabaqah ke-7 dan wafat setelah tahun 140 H. Dipakai oleh Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 443 no. 2860].
[4]      Sebagian ulama men-ta’liil riwayat ini karena keterputusan antara Al-Hasan dengan Samurah radliyallaahu ‘anhu.
Para ulama berbeda pendapat dalam tiga kelompok terhadap permasalahan riwayat Al-Hasan dari Samurah.
Kelompok pertama menyatakan penafikan kebersambungannya. Pendapat ini dipegang oleh Syu’bah, Yahyaa Al-Qaththaan (ia berpendapat riwayat Al-Hasan dari Samurah melalui perantaraan kitab), Ibnu Ma’iin, Ahmad bin Hanbal, dan Ibnu Hibbaan rahimahumullah.
Kelompok kedua menyatakan menyatakan Al-Hasan tidak mendengar hadits Samurah kecuali hadits tentang ‘aqiqah. Pendapat ini dipegang oleh An-Nasaa’iy, Ad-Daaraquthniy, Al-Bazzaar, Al-Baihaqiy, Ibnu Hazm, Ibnu ‘Abdil-Barr, Al-Mundziriy, dan ‘Abdul-Haq Al-Isybiliy rahimahumullah.
Kelompok ketiga berpendapat bahwa Al-Hasan mendengar hadits Samurah secara mutlak. Pendapat ini dipegang oleh ‘Aliy bin Al-Madiiniy, Al-Bukhaariy, At-Tirmidziy, Abu Daawud, Al-Haakim, An-Nawawiy, dan Adz-Dzahabiy rahimahumullah.
Yang raajih dalam permasalahan ini – wallaahu a’lam – adalah pendapat kelompok ketiga, karena terbukti Al-Hasan berjumpa dan mendengar Samurah bin Jundab hadits ‘aqiqah dan selainnya [silakan baca pembahasannya dalam kitab At-Taabi’uun Tsiqaat oleh Dr. Mubaarak Al-Hajuuriy, 1/238-255].

[5]      Misalnya : Bahaauddiin Al-Maqdisiy (Abu Muhammad ‘Abdurrahmaan bin Ibraahiim Al-Anshaariy) rahimahullah dalam Al-‘Uddah fii Syarh Al-‘Umdah 1/146-147

url

Kisah Hikmah : Kakek, Pemuda dan Telaga

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.

Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..”, ujar Pak tua itu.

“Pahit. Pahit sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.

Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.

Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. “Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”.

“Segar.”, sahut tamunya.
“Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya Pak Tua lagi.
“Tidak”, jawab si anak muda.

Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.

“Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan “segenggam garam”, untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.