Masjid-Hagi-Sofia-di-Turki

Sejarah Kerajaan Turki Utsmani

Setelah Khilafah Abbasiyah di Baghdad  runtuh akibat serangan tentara Mongol, kekuatan politik Islam mengalami kemunduran secara drastis. Wilayah kekuasaannya tercabik-cabik dalam beberapa kerajaan kecil yang satu sama lain saling memerangi. Beberapa peninggalan budaya dan peradaban Islam banyak yang hancur akibat serangan bangsa Mongol itu, Keadaan politik umat Islam secara keseluruhan baru mengalami kemajuan kembali setelah muncul dan berkembangnya tiga kerajaan besar, diantaranya Usmani di Turki, Mughal di India dan Safawi di Persia (Iran). Kerajaan Usmani ini adalah yang pertama berdiri juga yang terbesar dan paling lama bertahan dibanding dua kerajaan lainnya.

Dalam perkembangannya dunia islam selalu mengalami pasang surut dan disini saya akan memaparkan tentang periode-periode yang ada pada kerajaan Turki Usmani mulai dari awal berdirinya sampai keruntuhannya, karena kerajaan Turki Usmani inilah yang menjadi sebuah pionir dalam perkembangan dunia islam pada masanya dan juga kehancurannya menjadi sebuah pembuka masuknya era industrialisasi ke dunia islam.

Asal Mula Turki Utsmani

Kerajaan Turki Usmani didirikan oleh suku bangsa pengembara yang berasal dari wilayah Asia Tengah, yang termasuk suku  kayi. Ketika bangsa Mongol menyerang dunia Islam, pemimpin suku Kayi, Sulaiman Syah, mengajar anggota sukunya untuk menghindari serbuan bangsa Mongol tersebut dari lari ke arah barat. Bangsa Turki Usmani berasal dari keluarga Qabey salah satu kabilah Al-Ghaz Al-Turki, yang mendiami daerah Turkistan. Pemimpinnya yang terkenal bernama Sulaiman yang membawa kabilahnya sesuai perang milaz kurd, mengembara ke Asia kecil. Akan tetapi ditengah perjalanan, tepatnya di daerah perbatasan Halb, Sulaiman meninggal dunia, sehingga rombongan pengembara tersebut menjadi bimbang apakah terus melanjutkan pengembaraannya atau pulang kembali ke tempat asal mereka. Rombongan pengembara tersebut akhirnya pecah menjadi dua kelompok. Kelompok kedua yang melanjutkan perjalanannya dan memilih putra Sulaiman, Ertoghrul sebagai pimpinan mereka. Sesampainya di asia kecil rombongan Ertoghrul mengabdikan diri kepada Sultan Seljuk bernama Sultan Alauddin II yang mana saat itu berperang dengan Byzantium, maka Ertoghrul bersama rombongan pun segera membantu pasukan tentara Alauddin.

Setelah mendapatkan kemenangan, mereka mendapatkan hadiah berupa sebuah wilayah yang berdekatan dengan Byzantium. Sejak saat itulah mereka menetap disana. Pada 1289 Masehi, Ertoghrul meninggal dunia dan posisinya digantikan oleh anaknya, Utsman. Ditangan Utsman inilah berdiri kerajaan Turki Utsmani. Kemudian pada 1300 M, ada serangan dari Mongol terhadap Seljuk, dan kerajaan Seljuk mengalami kekalahan. Sejak saat itu Seljuk mengalami kemunduran. Maka Utsman menyatakan bahwa dia berkuasa penuh atas wilayah yang ditempatinya itu dan mengangkat dirinya sebagai raja dan mendapatkan sebutan sebagai Raja Utsman.

Periode Kemajuan Turki Utsmani

Sepeninggal Sultan Usman pada Tahun 1326 M, Kerajaan di pimpin oleh anaknya Sultan Orkhan I (1326-1359 M). Pada masanya berdiri Akademi Militer sebagai pusat pelatihan dan pendidikan, sehingga mampu menciptakan kekuatan militer yang besar dan dengan mudahnya dapat menaklukan sebagian daerah benua Eropa yaitu, Azmir (Shirma) tahun 1327 M, Tawasyanli 1330 M, Uskandar 1338 M, Ankara 1354 M dan Galliopoli 1356 M. Ketika Sultan Murad I (1359-1389 M) pengganti Orkhan naik. Ia memantapkan keamanan dalam negeri dan melakukan perluasan ke benua Eropa dengan menaklukan Adrianopel (yang kemudian menjadi ibu kota kerajaan baru) , Macedonia, Sopia, Salonia, dan seluruh bagian utara Yunani. Merasa cemas dengan kesuksesan Kerajaan Usmani, negara Kristen Eropa pun bersatu yang dipimpin oleh Sijisman memerangi kerajaan, hingga terjadilah pertempuran di Kosovo tahun 1389 M, namun musuh dapat di pukul mundur dan di hancurkan.

Pada tahun 1389 M, Sultan Bayazid (1389-1403 M) naik tahta. Perluasan berlanjut dan dapat menguasai Salocia, Morea, Serbia, Bulgaria, dan Rumania juga pada tahun 1394 M, memperoleh kemenangan dalam perang Salib di Nicapolas. Selain menghadapi musuh-musuh Eropa, Kerajaan juga dipaksa menghadapi pemberontak yang bersekutu dengan raja islam yang bernama Timur Lenk di Samarkand. Pada tahun 1402 M pertempuran hebat pun terjadi di Ankara, yang pada akhirnya Sultan Bayazid dengan kedua putranya Musa dan Ertoghrul, tertangkap dan meninggal di tahanan pada tahun1403 M. Sebab kekalahan ini Bulgaria dan Serbia memproklamirkan kemerdekaannya.Setelah Sultan Bayazid meninggal, terjadi perebutan kekuasaan di antara putra-putranya (Muhammad, Isa dan Sulaiman) namun di antara mereka Sultan Muhammad I (1403-1421 M) yang naik tahta, di masa pemerintahannya ia berhasil menyatukan kembali kekuatan dan daerahnya dari bangsa mongol, terlebih setelah Timur Lenk meninggal pada tahun 1405 M. Pada tahun 1421 M, Sultan Muhammad meninggal dan di teruskan oleh anaknya, Sultan Murad II (1421-1484 M) hingga mencapai banyak kemajuan pada masa Sultan Muhammad II/Muhammad Al Fatih (1451-1484 M) putra Murad II. Pada masa Muhammad II, tahun 1453 M ia dapat mengalahkan Bizantium dan menaklukan Konstantinopel. Setelah Beliau meninggal digantikan oleh putranya Sultan Bayazid II berbeda dengan ayahnya, Sultan Bayazid II (1481-1512 M) lebih mementingkan kehidupan tasawuf dari pada penaklukan wilayah, sebab itu muncul kontroversial akhirnya ia mengundurkan diri dan di gantikan putranya Sultan Salim I.

Pada masa Sultan Salim I (1521-1520 M) terjadi perubahan peta arah perluasan, memfokuskan pergerakan ke arah timur dengan menaklukan Persia, Syiria hingga menembus Mesir di Afrika Utara yang sebelumnya dikuasai mamluk. Setelah Sultan Salim I Meninggal, Muncul putranya Sultan Sulaiman I (1520-1566 M) sebagai Sultan yang mengantarkan Kerajaan Turki Usmani pada masa keemasannya, karena telah berhasil menguasai daratan Eropa hingga Austria, Bulgaria, Yunani, Yugoslavia, Albania, Hongaria dan Rumania, Afrika Utara hingga Mesir, Aljazair, Libia, Dan Tunis. Asia hingga Persia, Amenia, Syiria. Meliputi lautan Hindia, Laut Arabia, Laut Tengah, Laut Hitam. juga daerah-daerah di sekitar kerajaan seperti Irak, Belgrado, Pulau Rhodes, Tunis, Budapest dan Yaman.

Periode Kemunduran

Setelah Beliau meninggal di gantikan putranya Sultan Salim II (1566-1573 M) yang mana sejarah mencatat sebagai titik awal masa kemunduran Kerajaan Turki Usmani setelah berkuasa lebih dari 2 setengah abad. Pada masa pemerintahan Salim II, Terjadi pertempuran dengan Armada Laut Kristen yang dipimpin oleh Don Juan dari Spanyol di Selat Liponto, Yunani. Turki Usmani kalah yang mengakibatkan Tunisia dapat direbut musuh. Pengganti Salim II adalah Sultan Murad III ((1574-1595 M) ia dapat menyerbu Kaukasus, dan menguasai Tiflis di laut Hitam pada tahun 1577 M, merebut kembali Tabriz, dan menundukan Georgia. Namun karena berkepribadian jelek dan suka memperturutkan hawa nafsunya, muncul kekacauan dalam negeri. Kekacauan pun menjadi-jadi setelah Sultan Muhammad III (1595-1603 M) naik tahta. Austria berhasil memukul kerajaan yang menjadikan wibawa Kerajaan Turki Usmani hilang di mata bangsa-bangsa Eropa.

Selanjutnya Sultan Ahmad I (1603-1617 M) naik tahta. Ia bangkit kembali berusaha memperbaiki situasi dalam negeri, namun hasilnya kurang maksimal. Sesudah Sultan Ahmad I, keadaan semakin memburuk setelah naiknya Sultan Mustafa (1617-1618 M dan 1622-1623 M) pada awalnya dia hanya setahun menjabat karena tidak bisa mengatasi gejolak politik dalam negeri sehingga di paksa turun melalui Fatwa Syaikh Al Islam. Setelah Mustafa turun, digantikan oleh Sultan Usman II (1618-1622 M), Namun Ia juga tidak mampu memperbaiki keadaan, hingga Persia lepas dari kekuasaan. Dan di lanjutkan kembali oleh Sultan Mustafa namun hanya setahun, Ia pun di gantikan oleh Sultan Murad IV (1623-1640M) yang kemudian mampu memperbaiki, menyusun dan menertibkan pemerintahan kembali. Namun situasi kembali berubah setelah Sultan Ibrahim (1640-1648 M) naik tahta pada masanya, orang-orang Venesia berhasil mengusir Turki Usmani dari Cyprus dan Creta tahun 1645 M.

Sebab kekalahan itu kekuasaan yang dipegang oleh Muhammad Koprulu sebagai perdana menteri yang diberi kekuasaan absolut, berhasil mengupayakan stabilitas negara. Sepeninggal Koprulu, kerajaan dipegang oleh anaknya, Ibrahim. Sejak di pimpin Ibrahim, kerajaan selalu kalah dalam peperangan sehingga banyak wilayah yang melepaskan diri dari kerajaan dan terebut oleh Bangsa Eropa. Pada tahun 1699 M, terjadi perjanjian Korlowith yang memaksa Kesultanan Turki Utsmani melepaskan Hongaria, Slovenia, Kroasia kepada Hapsburg dan Hemenietz. Podolia, Ukraina, Morea, dan Dalmatia kepada bangsa Venetia. Pada tahun 1770 M, Bangsa Rusia pun dapat mengalahkan Turki Usmani di sepanjang pantai Asia kecil. Walaupun kelak dapat di kuasai kembali pada masa Sultan Mustafa III (1757-1774 M) Setelah sultan Mustafa III, digantikan oleh Sultan yang lemah, yaitu Sultan Abdul Hamid (1774-1789 M). Ia mengadakan perjanjian Kinarja dengan Catherine II dari Rusia. Yang mana Kerajaan diharuskan menyerahkan benteng-benteng yang ada di laut hitam, mengizinkan armada Rusia melewati Selat antara laut hitam dan putih, dan mengakui kemerdekaan Crimea.

Sejak itu kemunduran terus berlanjut hingga muncul pergerakan Turki Muda sebagai oposisi, dari kalangan pelajar perguruan tinggi yang berusaha menjatuhkan sistem monarki kesultanan Turki Usmani. Gerakan ini dipelopori oleh Murad Bey, Ahmad Reza, dan pangeran Salahudin pada tahun 1920 M, muncul pula pergerakan militer yang di kepalai oleh Mustafa Kemal Attaturk berserta tokoh nasionalis lainya seperti Yusuf Akcura dan Zia Gokalp, mereka mendirikan Dewan Nasional di Ankara. Pada tahun 1924 M, majelis ini pun mengeluarkan deklarasi yang mengangkat Mustafa Kemal Attaturk sebagai presiden dan merubah kerajaan menjadi negara republik.

Peradaban yang berkembang

Pada bidang militer dan pemerintahan

  1. Adanya Akademi militer sebagai pusat pendidikan dan pelatihan.
  2. Terbentuknya tentara tangguh Jenissari dan Taujiah.
  3. Adanya Kitab Muqtadha Al-Abhur, sebagai Undang-Undang Pemerintahan.
  4. Adanya perdana menteri sebagai pembantu raja dalam pemerintahan, dan disetiap daerah terdapat kepemimpinan lokal yang setara dengan gubernur sekarang.

Pada Bidang Ilmu Pengetahuan dan seni budaya

Sebab Turki Usmani kurang fokus terhadap ilmu pengetahuan, maka bidang ilmu pengetahuan pun kurang menonjol tidak seperti dinasti islam sebelumnya. Adapun beberapa tokoh termasyhur dari beberapa disiplin ilmu yang muncul kala itu, di antaranya :

  1. Abdulrauf Al Manawy dan Abdul Wahab Syaqrany , sebagai ahli hadis dan tasawuf.
  2. As Shadar bin Abdurrahman Al Akhdhary, sebagai ahli Filsafat dan mantiq.
  3. Daud Inthaqy dan Sahabudin bin Salamah Qaliyuby, ahli dalam bidang kedokteran.
  4. Ibnu Hasan Samarkandy, sebagai ahli ilmu politik.
  5. Qari Al Harawy, sebagai ahli musik.
  6. Ibnu Diba Az Zabidy dan Abdul Ghani An Nablusy, sebagai ahli sejarah.
  7. Aisyah Baquniyah dan Ali khan, sebagai ahli sastra.
  8. Abdulqadir Baghdady dan Az zabidy, sebagai ahli bahasa.
  9. Muammar Sinan, sebagai ahli di bidang arsitektur.
  10. Musa Azam, Sebagai ahli seni.

Adapun mengenai budaya sosial, budaya Turki Usmani sangat dipengaruhi oleh tiga budaya. Dari kebudayaan Persia mereka mengambil ajaran tentang etika dan tata krama dalam istana. Ajaran tentang prinsip-prinsip ekonomi, sosial, kemasyarakatan, dan keilmuan mereka mengambil dari Bangsa Arab. Sedangkan pemerintahan dan organisasi kemiliteran mereka banyak mengambil dari Byzantium.

Pada Bidang Keagamaan

  1. Adanya jabatan Mufti sebagai pejabat urusan agama tertinggi, yang memiliki kuasa legitimasi dalam hukum kerajaan.
  2. Berkembangnya Tarekat, seperti tarekat Bekhtsyi dan tarekat Maulawi.

Pada Bidang Ekonomi

Tercatat beberapa kota yang maju dalam bidang industri pada waktu itu di antaranya: Mesir sebagai pusat produksi kain sutra dan katun, Anatolia selain sebagai pusat produksi bahan tekstil dan kawasan pertanian yang subur, juga menjadi pusat perdagangan dunia pada saat itu.

 

Faktor-Faktor yang Menyebabkan Kehancuran Turki Utsmani

Adapun faktor-faktor yang menyebabkan kehancuran Turki Utsmani adalah sebagai berikut:

  1. Wilayah kekuasaan yang terlalu luas.
  2. Heterogenitas penduduk.
  3. Kelemahan para penguasa.
  4. Pemberontakan-pemberotakan.
  5. Merosotnya Ekonomi.
  6. Kurang berkembangnya ilmu pengetahuan. Geo.
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *